Tolong saya buat cerpen 700 kata tema terserah aja​

by -11 views

Jawaban:

Tujuh Burung Gagak

Dahulu, ada koteng laki-laki yang memiliki sapta khalayak anak suami-laki, dan laki-laki tersebut belum memiliki momongan perempuan yang lama diidam-idamkannya. Seriiring dengan berjalannya hari, istrinya akhirnya bersalin sendiri anak kuntum. Laki-laki tersebut sangat gembira, tetapi momongan gadis yang plonco lahir itu sangat katai dan sering sakit-sakitan. Seorang tabib memberitahu maskulin tersebut semoga mengambil air yang terserah pada suatu sendang dan memandikan anak perempuannya nan sakit-sakitan dengan air berpangkal sendang itu seharusnya momongan tersebut memperoleh berkah dan kesehatan yang baik. Sang ayah sangat menyuruh salah sendiri anak laki-lakinya untuk mengambil air bersumber sendang tersebut. Enam orang anak lelaki lainnya ingin ikut untuk menjeput air dan per anak laki-junjungan itu sangat ingin untuk mendapatkan air tersebut terlebih tinggal karena rasa sayangnya terhadap adik nona semata. Ketika mereka tiba di sumur dan semua berusaha untuk mengisi kendi yang diberikan kepada mereka, kendi tersebut terban ke dalam mata air. Ketujuh anak adam tersebut hanya terdiam dan tidak luang harus melakukan apa buat mengambil kendi yang jatuh, dan tak satupun dari mereka berani bagi pulang kerumahnya.

Ayahnya nan menunggu di rumah akhirnya hilang kesabarannya dan berkata, “Mereka karuan lupa karena bermain-main, anak nakal!” Karena takut momongan perempuannya lebih lindu, dia terlampau berteriak marah, “Saya berharap momongan laki-lakiku semua berubah menjadi butuh gagak.” Detik kata itu keluar dari mulutnya, ia mendengar kepakan sayap yang berpendar di udara, sang Ayah habis keluar dan mengawasi tujuh ekor burung gagak hitam terbang menjauh. Sang Ayah menjadi sangat menyesal karena mengkhususkan kata-kata kutukan dan tidak senggang bagaimana membatalkan kutukan itu. Tetapi sungguhpun kehilangan sapta manusia anak laki-lakinya, sang Ayah dan Ibu masih mendapatkan pelipur lara karena kesehatan anak asuh perempuannya berangsur-angsur membaik dan risikonya anak dayang tersebut bersemi menjadi gadis yang elok.

Amoi itu tidak kombinasi mengetahui bahwa dia mempunyai sapta individu ning maskulin karena orangtuanya tidak kontak memberitahu dia, sampai satu hari secara tidak sengaja gadis tersebut mendengar interlokusi beberapa anak adam, “Gadis tersebut memang suntuk rupawan, tetapi amoi tersebut harus disalahkan karena mengakibatkan roh buruk pada ketujuh saudaranya.” Amoi tersebut menjadi lewat sedih dan bertanya kepada orangtuanya akan halnya ketujuh saudaranya. Kesudahannya orangtuanya membualkan semua kejadian yang menghampiri ketujuh saudara gadis itu. Sang Gadis menjadi dulu tersentuh perasaan dan bertekad bagi mencari ketujuh saudaranya secara menyuruk. Engkau bukan membawa apapun kecuali sebuah cincin kecil peruntungan orangtuanya, sebuah roti untuk menahan lapar dan sedikit air bikin menahan haus.

Gadis tersebut berjalan terus, terus hingga ke ujung manjapada. Dia menemui matahari, namun matahari terlalu panas, lalu anda kemudian merodong bulan, hanya bulan terlalu dingin, lampau sira pergok bintang-tanda jasa nan ramah kepadanya. Saat bintang pagi buta muncul, tanda jasa tersebut memberikan sira sebuah tulang ayam jago dan bersabda, “Anda harus menggunakan tulang ini sebagai kunci untuk menyibakkan gunung yang terbuat dari gelas, disana sira akan bisa menemukan plasenta-saudaramu.

Gadis tersebut kemudian mengambil tulang tersebut, menyimpannya dengan selektif di pakaiannya dan menghindari ke arah gunung yang di tunjuk oleh bintang dini hari. Detik dia sudah lalu tiba di gunung tersebut, beliau baru sadar bahwa lemak tulang buat mendedahkan sendi bab gunung telah hilang. Karena dia berharap untuk menolong ketujuh saudaranya, maka sang Gadis tinggal mencoket sebilah pisau, memotong jari kelinkingnya dan meletakkannya di depan pintu portal. Pintu tersebut kemudian terbuka dan si Gadis dapat masuk kedalam, dimana koteng katai menemuinya dan bertanya kepadanya, “Anakku, apa yang dia cari?” “Saya berburu sapta saudaraku, tujuh burung gaok,” balas si Gadis. Makhluk mungil tersebut lalu berbicara, “Tuanku belum pulang ke rumah, sekiranya kamu ingin menemuinya, silahkan turut dan kamu boleh menunggunya di sini.” Lalu khalayak boncel tersebut menyiapkan makan siang sreg tujuh piring kecil cak bagi ketujuh saudara maskulin si Pemudi yang telah menjadi pelir burung dandang. Karena lapar, sang Dara mengambil dan memakan adv minim kas dapur nan ada plong per piring dan mereguk cacat dari tiap-tiap beling katai yang cak semau. Doang pada kaca nan terakhir, engkau menjatuhkan cincin milik orangtuanya yang dibawa bersamanya.

Tahu-tahu dia mendengar kepakan sayap burung di udara, dan saat itu orang kerdil itu berkata, “Sekarang tuanku sudah lalu hinggap.” Momen ketujuh titit gagak akan mulai bersantap, mereka mencatat bahwa seseorang telah meratah sedikit tembolok dari piring mereka. “Siapa yang telah memakan makananku, dan meminum minumanku?” kata riuk satunya. Saat burung gagak yang ragil minum dari gelasnya

Penjelasan:

AnswerBY : EvanVergano