Tasawuf Adalah Ilmu Yang Mempelajari Dan Menekankan Kepada

Semenjak Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia netral

Sufisme
(bahasa Arab:
صوفية,

translit.



shufiyyah

‎) maupun
tasawuf
(bahasa Arab:
تصوف,

translit.



tashawwuf

‎) adalah manuver Islam yang mengajarkan hobatan cara menjernihkan atma, menjernihan akhlak, membangun lahir dan batin serta bagi memperoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menyingkir hal duniawi) dalam Islam, dan kerumahtanggaan perkembangannya berputra tradisi mistisme Islam. Tarekat (bineka arus atau jalan intern Sufi) kerap dihubungkan dengan Syiah, Sunni, simpang Selam nan lain, atau pergaulan bermula beberapa tradisi
[butuh rujukan]
. Pemikiran Sufi muncul di Timur Perdua plong abad ke-8, sekarang pagar adat ini sudah tersebar ke seluruh belahan marcapada. Sufisme adalah sebuah konsep dalam Islam, nan didefinisikan oleh para juru sebagai bagian batin, format mistis Selam; yang enggak berpendapat bahwa sufisme adalah filosofi perenial yang telah ada sebelum eksistensi agama, ekspresi yang berkembang bersama agama Islam.[1]

Etimologi

Ada beberapa sumur perihal etimologi dari kata “Sufi”. Pandangan nan awam merupakan kata itu berasal berpokok Suf (صوف), bahasa Arab buat kamhar, merujuk kepada jubah terbelakang yang dikenakan oleh para asetik Mukminat. Sekadar tidak semua Sufi menyarungkan jubah atau pakaian semenjak kamhar. Suka-suka juga yang berpendapat bahwa sufi berbunga dari pengenalan
saf, yakni
armada dalam sholat. Satu teori etimologis yang tak menyatakan bahwa akar tunjang kata dari Sufi adalah
Safa
(صفا), yang berarti “kemurnian”. Hal ini menurunkan pendalaman pada Sufisme lega keotentikan lever dan vitalitas.[2]
Teori enggak mengatakan bahwa ilmu batin pecah mulai sejak kata Yunani theosofie artinya ilmu ketuhanan.

Definisi Sufisme

Banyak ulama jaman dulu dan sarjana beradab mengepas memberikan definisi tentang ilmu sufi atau sufisme. Buya Hamka, salah satu ulama nasional, mendefinisikan suluk sebagai “kehendak menyunting budi dan men-shifa’-kan (menjernihkan) batin,”[3]
yang mana kejadian ini mudah dipahami karena suluk identik dengan
tazkiyatun-nafs
(pembasuhan jiwa). Annemarie Schimmel memberikan definisi tasawuf yang lebih ringkas, yakni “dimensi mistik internal Islam.”[4]
Definisi ini satu bahasa dengan yang dikemukakan Seyyed Hossein Nasr, bahwa sufisme yakni “dimensi batin (esoteris) Islam nan memiliki dasar di dalam Al-Quran dan Sunnah Rasul.”[5]

Tentatif itu ulama-ulama hari awal pula memberikan beragam pengertian atau definisi. Dimyati Sajari mengenali bahwa hingga abad ke-3 Hijriah, sebagaimana disitir oleh Ibrahim Basyuni dalam Nasy’at at-Tashawwuf al-Islami, sudah terdapat empat puluh definisi.[6]
Beberapa definisi berasal jamhur-cerdik pandai terkemuka dirangkum oleh Duli Nashr al-Thusi (w. 377 H/988 M) di intern kitab Al-Luma’ sebagai berikut:[6]
[7]

  • Muhammad bin Ali al-Qashshab: tasawuf yaitu akhlak luhur, yang tampak jelas lega zaman yang mulia, yang berasal berpokok orang mulia, beserta kaum yang luhur.
  • Junaid al-Baghdadi (w. 298 H/911 M): ilmu batin adalah hendaknya engkau bersama Allah sonder menyertakan yang selain-Nya.
  • Ruwaim kacang Ahmad (w. 303 H/915 M): tasawuf yakni mengarahkan diri bersama Allah atas apa yang dikehendaki-Nya.
  • Sumnun bin Hamzat: tasawuf adalah hendaknya anda merasa tidak memiliki sesuatu dan enggak dimiliki maka itu sesuatu.
  • Abu Muhamad al-Jariri (w. 311 H/921 M): tasawuf adalah masuk ke kerumahtanggaan setiap kepatutan yang indah dan keluar dari setiap akhlak yang hina.
  • Amr bin Utsman al-Makki: suluk adalah hendaknya sendiri hamba melakukan sesuatu yang terdahulu di suatu waktu tertentu.
  • Ali bin Abdul Rahman al-Qannad: tasawuf adalah menempuh
    maqam-maqam
    (jenjang-janjang) dan mempertahankannya dengan melanggengkan berkomunikasi dengan Tuhan.

Berbagai pengertian dan definisi tentang ilmu batin lagi bermunculan, sekadar terwalak benang merah yang menghubungkannya, yakni akhlak, sebagai halnya dinukil Al-Hujwiri yang mengaitkan kebatinan dengan akhlak.[8]
Tersapu kejadian ini, Abu Hasan al-Nuri mengatakan bahwa tasawuf itu enggak bentuk dan bukan pulai ilmu, melainkan kesusilaan, atau dalam kalimat farik Abu Muhammad Murta’isy mengatakan
at-tashawwuf husnul-khuluq
(ilmu batin ialah eufemisme akhlak).[6]

Sejarah Sufisme

Sungguhpun secara esensi dipraktikan sejak awal mula Islam, saja terminologi
tasawuf—sebagaimana
fiqh
dan
kalam—tidak dikenal pada masa atma Nabi Muhammad saw dan para sahabat. Istilah ini mentah dikenal ketika
Bubuk Hasyim al-Kufi
(w. 160 H/776 M) mencantumkan pembukaan
al-Sufi
di belakang namanya,[9]
namun bukan berarti dia yaitu sufi pertama karena sebelumnya mutakadim ada tokoh-otak sufi tenar seperti Hasan al-Basri (w. 110 H/728 M). Sebelum istilah tasawuf dikenal di masa awal, menurut Reynold A. Nicholson sebagaimana dikutip Dimyati Sajari, rajah-bentuk tasawuf pada mulanya adalah propaganda kejuhudan (asketis) yang yakni bentuk tertua dari sufisme.[6]
[10]

Hasan al-Bashri (w. 110 H/728 M), koteng tabi’in yang hidup di abad ke-8 Hijriah, merupakan murid dari Huzaifah bin al-Yaman yang merupakan sahabat sekaligus pendamping Nabi Muhammad saw dengan julukan
Shahibu Sirri Rasulullah
(Pemegang Kunci Rasulullah).
Hasan al-Bashri, yang adv amat terkenal dengan kehidupannya yang terlambat dan zuhud, membuatnya didaulat dikenal sebagai motor awal sufisme.[11]
Tetapi, hidup sederhana dan zuhud bukanlah hal asing di masa itu, karena Nabi Muhammad saw dan para sahabat adalah tokoh-pelopor awal yang menjalani atma seperti mana demikian. Bahkan di masa-perian sebelum Islam, Muhammad muda kerap berkhalwat di Gaung Hira untuk mensucikan dirinya dan menjarang berusul publik jahiliyah.

Inisiator sufi lainnya yang arwah sejaman dengan Abu Hasyim al-Kufi merupakan Ibrahim polong Adham (w. 165 H/782 M). Kisah pertobatan
Ibrahim bin Adham
sangatlah populer dan menjadi legenda sufi, berasal seorang Sunan Balkh menjadi sendiri yang hidupnya adv amat asketisme. Sebagaimana diceritakan oleh Abu Nuaim, Ibrahim polong Adham sangat menekankan pentingnya uzlah dan tafakur.

Seiring dengan munculnya majemuk cabang ilmu dalam Islam di abad ke-2 dan ke-3 Hijriah, maka berkembang pula Ilmu Tasawuf. Beraneka rupa ajaran tentang ilmu batin pun bermunculan, namun akhlak adalah rayon merah bersumber semua ajaran yang terserah,[6]
dan keadaan ini bisa dipahami sebagai akhlak kepada diri sendiri, akhlak kepada sesama, dan kesusilaan kepada Allah. Hal ini dikembangkan berusul tiga pilar agama dalam Islam, yakni
imanislamihsan; di mana yang terkahir,
ihsan, ialah landasan spontan tujuan dari praktik sufisme yang ingin dicapai ketika sendiri sufi berserah diri seutuhnya kepada Allah.[12]

Peperangan

Banyak pendapat yang pro dan kontra mengenai dasar usul nubuat tasawuf, apakah sira berbunga dari luar atau semenjak dalam agama Islam sendiri. Sebagian pendapat mengatakan bahwa paham tasawuf merupakan kritis yang sudah berkembang sebelum Nabi Muhammad menjadi Rasulullah,[13]
sementara itu sebagian lainnya berpendapat bahwa asal usul ajaran tasawuf terbit dari zaman Nabi Muhammad saw.

Suka-suka pun pendapat lain yang menyebutkan tasawuf muncul karena faktor ketatanegaraan, ketika terjadi percekcokan antar umat Selam pada zaman Khalifah Utsman bin Affan dan Ali polong Abi Thalib yang berlanjut terus sebatas beberapa abad kemudian. Lampau munculah persuasi kebatinan sebagai perlawanan atas pertengkaran nan ada, yang di pelopori maka dari itu Hasan Al-Bashiri lega abad kedua Hijriyah, dan kemudian diikuti oleh figur-figur lain seperti Sufyan ats-Tsauri dan Rabi’ah al-‘Adawiyah.[14]

Sufisme Berasal dari Islam

  • Asal usul ajaran sufi didasari pada sunnah Nabi Muhammad. Keharusan bagi bersungguh-sungguh terhadap Tuhan merupakan kebiasaan di antara para muslim awal, yang buat mereka yaitu sebuah keadaan yang tidak bernama, kemudian menjadi disiplin tersendiri momen mayoritas publik mulai menyimpang dan berubah dari kejadian ini. (Nuh Ha Mim Keller, 1995)
    [15]
  • Seorang penulis berusul mazhab Maliki, Abd al-Wahhab al-Sha’rani mendefinisikan Sufisme sebagai berikut: “Urut-urutan para sufi dibangun dari Qur’an dan Sunnah, dan didasarkan pada cara semangat berdasarkan tata krama para nabi dan yang tersucikan. Tidak bisa disalahkan, kecuali apabila melanggar pernyataan eksplisit dari Qur’an, sunnah, atau ijma.” [11. Sha’rani, al-Tabaqat al-Kubra (Kairo, 1374), I, 4.].[16]
  • Sufi bukan lain adalah petunjuk buat mencapai maqam Ihsan (seperti mana tersebut dalam hadist) atau mencecah status muqarrabun (turunan-makhluk yang didekatkan kepada Halikuljabbar).
  • Ilmu sufi adalah penafsiran bathin (serebral) semenjak ayat-ayat Quran sama dengan: Bagaikan makhluk-anak adam yang mencoket pelindung-penaung selain Allah adalah sama dengan gonggo yang membuat rumah. Dan sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka mengetahui (Alquran, 29:41). Dalam Ilmu sufi, yang dimaksud pelindung kerumahtanggaan ayat ini juga termuat pelindung secara serebral, sebagaimana kita ketahui basyar banyak meranggitkan keberhargaan dirinya kepada dunia (sebagaimana harta, jabatan, pasangan, teman, dan tak-lain). Dalam Tasawuf, keberhargaan diri hanya boleh digantungkan kepada Sang pencipta. Karena sekiranya memang mereka percaya Yang mahakuasa adalah nan paling awet dan bermanfaat, maka menggantungkan kepada selain Tuhan yakni taghut (sesembahan). Inilah kenapa internal tareqahnya, seorang Sufi (penempuh Ilmu batin) harus bisa menjadikan Allah sebagai satu-satunya sendang maslahat dan penghargaan dirinya. Privat istilah lain, Tasawuf ialah ajaran lakukan mencapai Tauhid secara bathin (kognitif).
  • Sisi kognitif (bathin) yang terletak dalam ajaran-ajaran Kristen, Budha, dan tak-lain mudahmudahan tidak menafikan kedatangan Kebatinan sebagai sisi psikologis (bathin) n domestik tajali Islam. Hal ini karena Selam adalah ajaran penyempurna sehingga tidak harus sepenuhnya baru dari wahyu-ajaran nan terdahulu. Adanya sisi bathin dalam ajaran-ajaran yang sebelumnya ada malahan memperkuat status Tasawuf karena tentunya harus cak semau garis merah antara agama-agama yang besar, karena prospek besar ilham-ajaran tersebut dulunya adv pernah etis, sehingga masih ada sisa-sisa kebenaran nan mirip dengan Ilmu sufi misal sisi bathin (psikologis) dari tanzil Islam.

Sufisme Yuridiksi di Asing Islam

  • Sufisme berasal dari bahasa Arab
    suf, yaitu pakaian yang terbuat dari wol puas kabilah asketen (yaitu orang yang hidupnya menjauhkan diri terbit kemewahan dan kesenangan). Dunia Kristen, neo platonisme, pengaruh Persi dan India ikut menentukan tanggap tasawuf sebagai arah asketis-mistis dalam wahi Islam (Mr. G.B.J Hiltermann & Prof. Dr. P. Van De Woestijne).
  • (Sufisme) yaitu ajaran mistik (mystieke leer) yang dianut sekelompok kepercayaan di Timur terutama Persi dan India yang mengajarkan bahwa semua yang muncul di bumi ini bagaikan sesuatu yang mujarad (als idealish verschijnt), manusia bak pancaran (uitvloeisel) dari Tuhan selalu berusaha bagi pun berbaur dengan Kamu (J. Kramers Jz).
  • Al Quran pada pertama Islam diajarkan cukup menuntun sukma batin umat Muslimin yang saat itu minus jumlahnya. Lambat laun dengan kian luasnya area dan pemeluknya, Islam kemudian menggampar perasaan-perasaan terbit asing, dari pemeluk-pemeluk nan sebelum ikut Islam mutakadim menganut agama-agama yang kuat ajaran kebatinannya dan telah mengajuk ajaran perdukunan, keyakinan mencari-cari hubungan perseorangan dengan ketuhanan n domestik berbagai bentuk dan dandan nan ditentukan agama masing-masing. Perasaan perdukunan nan cak semau pada kaum Muslim abad 2 Hijriyah (yang sebagian diantaranya sebelumnya menganut agama Non Selam, semisal individu India yang sebelumnya beragama Hindu, orang-insan Persia yang sebelumnya beragama Zoroaster ataupun orang Siria yang sebelumnya beragama Serani) enggak ketahuan masuk dalam kehidupan kaum Muslim karena plong mereka masih terdapat kehidupan batin yang ingin mencari kedekatan diri pribadi dengan Tuhan. Religiositas dan gerak-gerik (akibat paham okultisme) ini makin hari bertambah luas mendapat sambutan terbit suku bangsa Muslim, meski mendapat tantangan bersumber ahli-ahli dan hawa agamanya. Maka dengan jalan demikian berbagai aliran mistik ini nan lega permulaannya ada yang pecah bermula revolusi klenik Kristen, Platonisme, Persi dan India bertahap memengaruhi aliran-peredaran di kerumahtanggaan Selam (Prof. Dr. H. Abubakar Aceh).
  • Responsif suluk terbentuk terbit dua anasir, yaitu (1) Perasaan kebatinan yang suka-suka puas sementara basyar Islam sejak awal perkembangan Agama Islam, (2) Sifat atau kebiasaan mukmin baru nan berpunca bermula agama-agama non Islam dan berbagai reseptif mistik. Oleh kesannya, reseptif ilmu sufi itu bukan wahi Selam walaupun tidak sedikit mengandung zarah-unsur ajaran Islam. Dengan kata enggak, intern agama Islam tidak ada paham Ilmu batin walaupun tidak sedikit jumlah khalayak Islam nan menganutnya (MH. Amien Jaiz, 1980).[17]
  • Tasawuf dan sufi berasal dari daerah tingkat Bashrah di daerah Irak. Dan karena doyan mengenakan gaun yang terbuat bersumber bulu domba (Shuuf), maka mereka disebut dengan “Sufi”. Soal hakikat Tasawuf, hal itu bukanlah wahyu Rasulullah SAW dan tak sekali lagi ilmu pusaka mulai sejak Ali kedelai Abi Thalib Radiyallahu ‘anhu. Menurut Asy Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir rahimahullah bersabda: “Tatkala kita telusuri tajali Sufi periode pertama dan keladak, dan juga ucapan-ucapan mereka baik yang keluar dari lisan ataupun yang terwalak di dalam sendisendi terdahulu dan terkini mereka, maka lewat berbeda dengan tanzil Al Qur’an dan As Sunnah. Dan kita tidak pernah mengintai asal usul nubuat Sufi ini di dalam rekaman pemimpin umat makhluk Muhammad SAW, dan juga internal sejarah para sahabatnya yang sani, serta makhluk-insan saringan Allah Ta’ala di standard semesta ini. Bahkan sebaliknya, kita melihat bahwa ajaran Sufi ini diambil dan diwarisi berpunca kerahiban Nashrani, Brahma Hindu, ibadah Yahudi dan zuhud Buddha” – At Tashawwuf Al Mansya’ Wal Mashadir, hal. 28.(Ruwaifi’ bin Sulaimi, Lc).[18]

Tokoh-Tokoh Sufi

Inisiator Sufi Dunia

Beberapa sufi nan populer antara enggak:

  • Rabi’ah al-Adawiyyah (713–717)
  • Tepung Nawas (756–814)
  • Duli Yazid Al-Busthami (804–874)
  • Junaid al-Baghdadi (830–910)
  • Al-Hallaj (858–922)
  • Rohaniwan Al-Ghazali (1056–1111)
  • Syekh Abdul Qadir Jaelani (1077–1166)
  • Moinuddin Chishti (1142–1236)
  • Anak laki-laki Arabi (1165–1240)
  • Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam (1179–1232)
  • Abul Hasan Asy-Syadzili (1197–1258)
  • Jalaluddin Rumi (1207–1273)
  • Syekh Siti Jenar (1404–1517)
  • Sunan Bonang (1465–1525)
  • Ahmad al-Tijani (1735–1815)
  • Bawa Muhaiyaddeen (w. 1986)

Pencetus Sufi Indonesia

Tokoh-tokoh yang memengaruhi tasawuf di Indonesia diantaranya adalah: Syamsuddin As-Sumatrani, Hamzah Al-Fasuri, Nuruddin Ar-Raniri, Syekh Abdurrauf As-Singkili, dan Syekh Yusuf Al-Makasari.[19]

Contoh tanzil

Berikut model paham Sufi atau paham tasauf:

Empat tingkatan spiritual

Empat tingkatan kedalaman beragama

Syari’at privat perspektif paham ilmu batin ada nan menggambarkannya dalam bagan
Empat Tingkatan Spiritual Umum
internal Islam, syariat, tariqah atau tarekat, hakikat. Tataran keempat, ma’rifat, nan ‘tak tertumbuk pandangan’, sebenarnya adalah
inti
berpokok wilayah hakikat, sebagai ekstrak berusul keempat tingkatan spiritual tersebut.

Sebuah tingkatan menjadi fondasi bikin tingkatan selanjutnya, maka mustahil mengaras tataran berikutnya dengan meninggalkan tinggi sebelumnya. Seumpama komplet, jikalau seseorang telah berangkat masuk ke tingkatan (kedalaman beragama) tarekat, hal ini tidak berarti bahwa ia bisa meninggalkan syari’at. Yang menginjak mengerti hakikat, maka dia tetap melaksanakan hukum-hukum alias qada dan qadar syariat dan tarekat.

Paham kesatuan wujud

Tanggap wahdah wujud merupakan perseptif yang dibawa maka dari itu Ibnu Arabi pada abad ke-3 Hijriah. Tokoh-tokohnya antara lain adalah Ibnu Arabi, Mansur al Hallaj, dan Jalaludin Rumi. Perseptif ini ditolak oleh Al Ghazali dan Ibnu Taymiah.

Momen tidak ada gerak bagimu bakal dirimu seorang maka eksemplar yakinmu, dan detik tak ada wujudmu bagimu maka model tauhidmu. [1] Maknanya: ketika kamu fana mulai sejak wujudmu karena tidak adanya pandanganmu terhadap wujudmu terkadang, dengan pendirian anda tak meluluk wujud bikin dirimu beserta wujud Gusti-mu Yang Maha Agung dan Luhur, maka sempuna tauhidmu. Situasi itu, karena ia telah menyatakan Gusti-mu dan kamu menimang pandanganmu didalamnya. Maka anda melihat wujudmu, yaitu semua amalmu semenjak Allah swt sebagi ciptaan, maka ketika ini, kamu tidak melihat wujud kecuali Allah swt Yang Maha Agung dan Mulia. Maka momen itu mutakadim hipotetis tauhidmu. Karena hamba selagi mengawasi wujud dan amalnya sendiri, maka lain sempurna tauhidnya menurut para muwahhidiin muhaqqiqiin para petauhid sempurna. Karena dia masih mematamatai dirinya dapat menderma yang dedikasi itu keluar dari dirinya. Berlainan dengan muwahhidiin muhaqqiqiin (para petauhid sempurna), anda (mereka) telah hilang dari wujud dirinya nan majazi dan tembelang dengan sebab wujud Almalik swt yang Maha Ada yang kekal dan hakiki. Keadaan itu ketika Halikuljabbar swt telah menerimakan kenyataan padanya tentang hakikat-hakikat, lampau dia melihat dengan sinar Tuhan-nya yang telah dititipkan plong cembung hatinya, bahwa sememangnya Allah swt telah membuat dirinya dengan anugerah-NYA dan menolongnya dengan kasih-NYA, kemudian ia tidak mengawasi dalam wujud selain Allah swt dan bukan melihat kasih selain Tuhan swt Nan Maha Agung dan Mulia, maka sempurnalah tauhidnya. [2]

Menurut al-Banjari, kaum wujudiyyah (orang-orang yang memahami tentang wahdatul wujud) itu ada dua golongan: wujudiyyah mulhid dan wujudiyyah muwahhid. wujudiyyah mulhid tersurat golongan yang sesat lagi zindiq. Wujudiyyah muwahhid, menurut beliau, “yaitu segala ahli sufi yang selayaknya”, mereka dinamakan kaum wujudiyyah ”karena bicaranya dan perkataannya dan itikadnya itu pada wujud Allah”. Engkau lain menjelaskan isi ajaran mereka, tetapi sebagai lawan berpunca wujudiyyah mulhid tadi, wujudiyyah muwahhid karuan lain menganggap bahwa Almalik lain “tiada maujud melainkan di dalam kandungan wujud segala makhluk”, alias “bahwa Tuhan itu ketahuan zat (esensi)-Nya nyata kaifiat-Nya daripada pihak terserah. Engkau waujud pada kharij dan pada zaman dan makan”, dan lain pun membenarkan pernyataan-pernyataan seumpama “tiada wujudku, cuma wujud Allah”, dan sebagainya, yang mencerminkan pandagan wujudiyyah mulhid itu. Deklarasi al-Banjari tentang ajaran kaum wujudiyyah mulhid itu kelihatan sangat mirip dengan deklarasi ar-Raniri, yang n domestik abad sebelumnya menyanggah penyanjung-penganut di Aceh.

Bersendikan penjelasan ini, pada dasarnya seperti mana ajaran wahdah al-wujud Anak laki-laki Arabi. Visiun ini juga memandang sejagat ini bak penampakan lahir Allah n domestik arti bahwa wujud yang hakiki hanya Allah sahaja -alam semesta ini hanya paparan- bayang-Nya. Berbunga satu segi, ilham ini kelihatan sebanding dengan ajaran tauhid tngkat tertinggi. Kedua ajaran itu memandang bahwa wujud nan hakiki hanya suatu-Halikuljabbar, tetapi berusul lain segi wujudiyyah muwahhid dan wihdah al-wujud ini tidak seperti rukyat “bahwa yang ada sahaja Allah” dalam ajaran nan bungsu ini hanya tercapai dalam keadaan yang disebut fana, ialah terhapunya kesadaran akan wujud nan enggak, semenjana intern wangsit wihdah al-wujud, pandangan tersebut kelihatan bagaikan hasil penafsiran atas fenomena alam yang serba majemuk ini.

Di samping itu, pandangan tauhid tingkat tertinggi itu, tampaknya didasarkan atas asumsi bahwa konsentrat Yang mahakuasa yang mutlak itu dapat dikenali secara langsung, tanpa menerobos penampilan lahir-Nya, asumsi ini dibantah oleh Ibnu Arabi, karena menurut dia Allah hanya bisa dikenal melalui nama-label dan kebiasaan-aturan-Nya. (Skrip Klasik [3] Keagamaan Nusantara I Gambaran Budaya Bangsa, Departemen Agama RI, Badan Litbang Agama dan Diklat Keagamaan, Puslitbang Lektur Keyakinan, 2005: 49-50). [4]

Sufisme dan mantra maklumat

Ilmu pemberitahuan yang pada zaman Yunani bersejarah diberi citra, terlebih diidentikkan dengan filsafat. Tasawuf sebagai guna-guna pula diarahkan bikin khasiat agama (Kristiani), baru memperoleh sifat kemandiriannya semenjak adanya gerakan Renaissance dan Aufklarung. Berpokok itu juga manusia merasa nonblok, tidak memiliki komitmen dengan segala atau siapapun (agama, pagar adat, sistem pemerintahan, kekuasaan garis haluan dan lain sebagainya) selain komitmen dengan dirinya sendiri untuk mempertahankan kebebasannya dalam menentukan kaidah dan sarana memfokus usia yang hendak dicapai.[20]

Kesenian sufi

Tairan mengarun
Dervish
ialah salah suatu kesenian Sufi yang terkenal

Sufisme telah menyumbang cukup banyak syair dalam Bahasa Arab, Bahasa Turki, Bahasa Farsi, Bahasa Kurdi, Bahasa Urdu, Bahasa Punjab, Bahasa Sindhi, yang paling dikenal mencakup karya dari Izzah al-Din Muhammad Rumi, Abdul Qader Senapan, Bulleh Shah, Amir Khusro, Shah Abdul Latif Bhittai, Sachal Sarmast, Yamtuan Bahu, tradisi-tradisi dan tarian persembahan seperti Setinggi dan musik seperti Qawalli.

Di Cirebon, kesenian yang gandeng dengan Kesenian Sufi ini adalah Brai, Gembyung, Cemas, Genjring Santri, dan lainya. Galibnya Jenis Kesenian yang beredar di Cirebon terkait dengan kronologi reaktif tasawuf tersebut.

Sejumlah buku yang telah di tulis makanya para artis, budayawan, dan sejarahwan Cirebon menguatkan anggapan ini. Persendian yang memuat adapun kesenian Cirebon nan berakar lega nubuat tasawuf ini diantaranya adalah Budaya Bahari Sebuah Apresiasi di Cirebon yang di tulis oleh Rokhmin Dahuri dkk puas tahun 2004 dan di cetak oleh PNRI. Selanjutnya buku Deskripsi Kesenian Cirebon yang di susun oleh Maktab Kebudayaan dan Pariwisata Kaupaten Cirebon yang keseleo satu anggota penyusunnya adalah Bapak Kartani. Dalam banyak kesempatan Kartani selalu menjelaskan bahwa peristiwa tersebut terjadi karena media kesenian sangat sepakat untuk berdakwah pada saat itu Mertasinga 2004.

Jika seni dan kesenian dijadikan laksana kendaraan dakwah, maka dahulu munfisme/suluk yang selalu menitik beratkan lega niat baik dalam segala aktiitas yang dijalnkannya. [5]

tasawuf itu runyam didefinisikan sebaiknya dapat dipahami dengan mudah

Tatap pula

  • Mistik
  • Tasawuf
  • Salik
  • Tarekat
  • Tariqat & Tasawwuf
  • Waris Ali Shah

Catatan


  1. ^

    Seyyed Hossein Nasr, ‘Sufism’,
    lihat: http://dialoguetalk.org/seyyed-hossein-nasr/sufism/

  2. ^

    Shaykh Muhammad Hisham Kabbani,
    The Naqshbandi Sufi Tradition Guidebook of Daily Practices and Devotions, 2004, hlm. 83.

  3. ^


    Hamka (2015).
    Suluk Modern. Jakarta: Republika Penerbit. ISBN 978-602-8997-98-0.





  4. ^


    Schimmel, Annemarie (1986).
    Matra-Matra Mistik dalam Islam. Diterjemahkan oleh Djoko Damono, Sapardi. Jakarta: Teks Firdaus.





  5. ^


    Nasr, Seyyed Hossein (2020).
    Ilmu batin Habis dan Sekarang. Yogyakarta: IRCiSoD. ISBN 9786027696976.




  6. ^


    a




    b




    c




    d




    e




    Sajari, Dimyati (2015). “Keaslian Tanzil Ilmu batin”.
    Dialog Journal.
    38
    (2): 145–156. doi:10.47655/dialog.v38i2.40.





  7. ^


    as-Sarraj, Abu Nashr (2009).
    Al-Luma’
    . Surabaya: Risalah Gusti.





  8. ^


    Al-Hujwiri, Ali Bani Utsman (2015).
    Kasyful Mahjub. Bandung: PT. Tula Pustaka. ISBN 978-979-433-876-6.





  9. ^


    Syukur, HM. Amin (1999).
    Menggugat Tasawuf: Sufisme dan Pikulan Jawab Sosial Abad 21. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. hlm. 7–8. ISBN 979-907-572-6.





  10. ^


    Nicholson, Reynold A (1963).
    The Mystics of Islam. London: Routledge & Kegan Paul Ltd.





  11. ^


    Nashr, Seyyed Hossein (2008).
    The Garden of Truth: The Vision and Promise of Sufism, Islam’s Mystical Tradition. San Francisco: HarperOne. hlm. 168. ISBN 978-0061625992.





  12. ^


    Chittick, William C. (2007).
    Sufism: A Beginner’s Guide. Oneworld Publications. ISBN 978-1851685479.





  13. ^

    Hakikat tasawuf oleh Qardhawi

  14. ^

    Solihin, M. Anwar, M Rosyid.
    Akhlak Ilmu batin
    (Bandung: Nuansa 2005) hlm. 177

  15. ^

    Place of Tasawwuf in Traditional Islam

  16. ^

    Islamic Spirituality, the forgotten revolution

  17. ^

    Masalah Mistik Tasawuf & Kebatinan, MH. Amien Jaiz, PT Alma’arif – 1980 Bandung

  18. ^


    “Hakikat Tasawuf dan Sufi”. Diarsipkan dari varian asli tanggal 2008-05-02. Diakses terlepas
    2007-03-08
    .





  19. ^

    Anwar, Rosihan.
    Etik Kebatinan
    (Bandung: CV Teks Setia 2009) hlm. 225

  20. ^

    Asmaran.
    Pengantar Studi Tasawuf
    (Jakarta: PT Yang dipertuan Grafindo Persada 2002) hlm.23

Bacaan tambahan

  • Abun-Nasr, Jamil.
    Orang islam Communities of Grace: The Sufi Brotherhoods in Islamic Religious Life. London, Hurst, 2007.
  • Al-Badawi, Mostafa.
    Sufi Sage of Arabia. Louisville: Fons Vitae, 2005.
  • Algan, Refik & Camille Adams Helminski, translators,
    Rumi’s Ciuman: The Teachings of Shams of Tabriz, (Sandpoint, ID:Morning Light Press, 2008) ISBN 978-1-59675-020-3
  • Ali-Shah, Omar.
    The Rules or Secrets of the Naqshbandi Kiriman, Tractus Publishers, 1992, ISBN 978-2-909347-09-7.
  • Angha, Nader. “Sufism: A Bridge Between Religions”. MTO Shahmaghsoudi Publications, 2002, ISBN 0-910735-55-7
  • Angha, Nader. “Sufism: The Lecture Series”. MTO Shahmaghsoudi Publications, 1997, ISBN 978-0-910735-74-2.
  • Angha, Nader. “Peace”. MTO Shahmaghsoudi Publications, 1994, ISBN 978-0-910735-99-5.
  • Aractingi, Jean-Marc and Christian Lochon,
    Secrets initiatiques en Islam et rituels maçonniques-Ismaéliens, Druzes, Alaouites,Confréries soufies; éd. L’Harmattan, Paris, 2008 (ISBN 978-2-296-06536-9).
  • Arberry, A.J..
    Mystical Poems of Rumi, Vols. 1&2. Chicago: Univ. Chicago Press, 1991.
  • Austin, R.W.J..
    Sufis of Andalusia, Gloustershire: Beshara Publications, 1988.
  • Azeemi,Khwaja Shamsuddin.
    Muraqaba: Art and Science of Sufi Meditation, Houston:Plato Publishing,Inc., 2005, ISBN 0-9758875-4-8.
  • Barks, Coleman & John Moyne, translators,
    The Drowned Book: Ecstatic & Earthy Reflections of Bahauddin, the Father of Rumi, (NY: HarperCollins, 2004) ISBN 0-06-075063-4
  • Bewley, Aisha.
    The Darqawi Way. London: Diwan Press, 1981.
  • Burckhardt, Titus.
    An Introduction to Sufi Doctrine. Lahore: 1963.
  • Chopra, R M, “Great Sufi Poets of The Punjab”, Iran Society, Calcutta, 1999.
  • Colby, Frederick.
    The Subtleties of the Ascension: Lata’if Al-Miraj: Early Mystical Sayings on Muhammad’s Heavenly Journey. City: Fons Vitae, 2006.
  • Dahlén, Ashk, Sufi Islam,
    The World’s Religions: Continuities and Transformations, ed. Peter B. Clarke & Peter Beyer, New York, 2008.
  • Emin Er, Muhammad.
    Laws of the Heart: A Practical Introduction to the Sufi Path, Shifâ Publishers, 2008, ISBN 978-0-9815196-1-6.
  • Emin Er, Muhammad.
    The Soul of Islam: Essential Doctrines and Beliefs, Shifâ Publishers, 2008, ISBN 978-0-9815196-0-9.
  • Ernst, Carl.
    The Shambhala Guide to Sufism. HarperOne, 1999.
  • Fadiman, James and Frager, Robert.
    Essential Sufism. Boulder: Shambhala, 1997.
  • Farzan, Massud.
    The Tale of the Reed Pipe. New York: Dutton, 1974.
  • Gowins, Phillip.
    Sufism—A Path for Today: The Sovereign Soul. New Delhi: Readworthy Publications (P) Ltd., 2008. ISBN 978-81-89973-49-0
  • Khan, Inayat. “Part VI, Sufism”.
    The Sufi message, Volume IX—The Unity of Religious Ideals
  • Koc, Dogan, “Gulen’s Interpretation Of Sufism” Diarsipkan 2022-11-01 di Wayback Machine.,
    Second International Conference on Islam in the Contemporary World: The Fethullah Gülen Movement in Thought and Practice, December 2008
  • Lewinsohn (ed.),
    The Heritage of Sufism, Tagihan I: Classical Persian Sufism from its Origins to Rumi (700-1300).
  • Michon, Jean-Louis.
    The Autobiography (Fahrasa) of a Moroccan Soufi: Ahmad Ibn ‘Ajiba (1747–1809). Louisville: Fons Vitae, 1999.
  • Nurbakhsh, Javad,
    What is Sufism?
    electronic text derived from
    The Path, Khaniqahi Nimatullahi Publications, London, 2003 ISBN 0-933546-70-X.
  • Rahimi, Sadeq (2007). Intimate Exteriority: Sufi Space as Sanctuary for Injured Subjectivities in Turkey.
    [
    pranala purnajabatan permanen
    ]

    ,
    Journal of Religion and Health, Vol. 46, No. 3, September 2007; pp. 409–422
  • Schimmel, Annemarie,
    Mystical Dimensions of Islam. Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1983. ISBN 0-8078-1223-4
  • Schmidle, Nicholas, “Pakistan’s Sufis Preach Faith and Ecstasy” Diarsipkan 2009-01-22 di Wayback Machine.,
    Smithsonian magazine, December 2008
  • Sells, Michael (ed.),
    Early Islamic Mysticism: Sufi, Qur’an, Mi’raj, Poetic and Theological Writings, ISBN 978-0-8091-3619-3.
  • Shah, Idries.
    The Sufis. New York: Anchor Books, 1971, ISBN 0-385-07966-4.
  • Shah, Sirdar Ikbal Ali.
    “The General Principles of Sufism,”
    The Hibbert Journal, Vol. XX, October 1921/ July 1922.
  • Shaikh Sharfuddin Maneri.
    Letters from a Sufi Teacher. Mountain View, CA: Golden Elixir Press, 2010. ISBN 978-0-9843082-4-8.
  • Seker, Nimet.
    Jewish and Orang islam Mysticism: Jewish Mystics on the Sufi Path
    Qantara.de Diarsipkan 2022-03-17 di Wayback Machine. April 2010
  • Wilcox, Lynn. “Women and the Holy Qur’an: a Sufi Perspective”. MTO Shahmaghsoudi Publications, 1998, ISBN 0-910735-65-4

Pranala luar

  • Sufism Oxford Islamic Studies Online
  • Sufism di Curlie (dari DMOZ)
  • Sufism, Sufis, and Sufi Orders – Sufism’s Many Paths
  • Extensive photo Essay on Sufism by a National Geographic photographer
  • ProjectSufism – misconceptions, realities and true essence of sufism Diarsipkan 2022-06-30 di Wayback Machine.
  • (Indonesia)
    Hakikat kebatinan makanya Qardhawi



Source: https://id.wikipedia.org/wiki/Sufisme




banner

×