Model Pembelajaran Contextual Teaching And Learning

Halo, Guru Sakti!

Di masa hawar ini tentu sebagian guru ada yang mengalami kesulitan dengan adanya SFH
(school from home)
maupun penataran daring di rumah.
Banyaknya kendala dalam pelaksanaan KBM (kegiatan belajar mengajar) memaui tanggung jawab guru, keseleo satunya berkaitan dengan kompetensi pedagogis. Kompetensi pedagogis adalah kemampuan guru yang berkenaan dengan aneksasi pola dan praktis dalam pengajian pengkajian, seperti kemampuan mengelola pembelajaran, perencanaan dan pelaksanaan, evaluasi hasil belajar, dan pengembangan siswa didik buat mengaktualisasikan berbagai ragam potensi yang dimilikinya (Susanto, 2022).

Metode pengajian pengkajian pada hari ini juga menjadi kancing pemegang berbuah tidaknya proses berlatih daring di rumah. Terletak pelecok satu metode penataran nan mampu meningkatkan kompetensi pedagogis serta efektif digunakan untuk mengajar yaitu metode
Contextual Teaching and Learning
(CTL).
Contextual Teaching and Learning (CTL)
merupakan suatu model pembelajaran yang memberikan kemudahan kegiatan belajar siswa bikin mencari, mengurus, dan menemukan pengalaman belajar yang lebih berperangai faktual dan mengaitkan dengan kehidupan positif murid (Komalasari, 2022).

Berdasarkan penggalian yang dilakukan Fadhli sreg tahun 2022, Efektivitas Pelatihan
Contextual Teaching and Learning (CTL)

Faedah Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Guru Sekolah Dasar di Pulau Sebatik, metode pembelajaran
Contextual teaching and learning (CTL)
bisa meningkatkan kompetensi pedagogis guru. Pelatihan penerapan metode
Contextual Teaching and Learning (CTL)
juga boleh menelanjangi wawasan baru cak bagi para guru. Metode dan pendekatan pembelajaran
Contextual Teaching and Learning (CTL)
dapat meningkatkan kemampuan guru dalam mengajar pelajar didik. Disamping itu, metode CTL dapat diterapkan pada berbagai kurikulum dan di berbagai macam kelas, bagaimanapun keadaannya, sehingga memudahkan Hawa Sakti untuk mengajar di musim pandemi ini.

Padalah, terdapat tujuh komponen dalam proses pengajian pengkajian CTL, Guru Pintar. Komponen-komponen tersebut yaitu konstruktivisme
(constructivisme),
menemukan
inquiry (inquiry),
menanya
(questioning),
umum belajar
(learning comunity),
pemodelan
(modelling),
refleksi
(reflection),
dan penilaian sepatutnya ada
(authentic assesment).

1. Konstruktivisme (Constructivisme)

Konstruktivisme yakni pematang filosofis (berpikir dalam-dalam) pendekatan
Contextual Teaching and Learning
(CTL). Kontruktivisme memfokuskan terbangunnya pemahaman sendiri secara aktif, berkecukupan, dan produktif bersendikan pengetahuan dan keterangan utama dan mulai sejak camar duka belajar yang bermanfaat. Kegiatan membiasakan dikemas menjadi proses mengonstruksi pengetahuan sehingga belajar dimulai dari apa yang diketahui pesuluh didik. Diharapkan pesuluh didik mampu menemukan ide dan proklamasi, baik konsep alias prinsip plonco, menerapkan ide-ide, kemudian siswa asuh mengejar strategi belajar yang efektif moga mencecah kompetensi dan puas atas penemuannya (Mulyasa, 2009).

2. Bertanya (Questioning)

Keterangan yang dimiliki seseorang bermula dari “bertanya.” Bertanya
(Questioning
) merupakan strategi utama pengajian pengkajian yang berbasis
Contextual Teaching and Learning
(CTL). Bertanya dalam pengajian pengkajian dipandang sebagai kegiatan master untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa (Muslich, 2022: 44). Dalam pembelajaran
Contextual Teaching and Learning
(CTL), guru tidak menyorongkan mualamat begitu saja doang mengail siswa lakukan dapat menemukannya sendiri. Makanya karena itu, peran bertanya sangat terdahulu sebagai cara suhu bagi membimbing dan mengarahkan murid menemukan setiap materi yang dipelajarinya (Trianto, 2007).

3. Menemukan (Inquiry)

Menemukan yaitu bagian inti dari kegiatan penataran berbasis
Contextual Teaching and Learning
(CTL). Kegiatan ini diawali bermula pengamatan terhadap fenomena, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan signifikan bagi menghasilkan temuan nan diperoleh sendiri maka itu siswa. Takrif dan keterampilan yang diperoleh siswa lain hasil mengingat seperanggu fakta-fakta, hanya hasil dari menemukan seorang. Ancang-awalan kegiatan
inquiry
yaitu merumuskan masalah, mengamati alias melakukan observasi, menganalisis dan menyuguhkan hasil, dan mengomunikasikan hasilnya pada pihak lain (Trianto, 2007).

4. Masyarakat Belajar (Learning Community)

Masyarakat belajar merupakan sekelompok insan yang tercantol privat kegiatan belajar. Konsep umum belajar (learning community) mensyurkan sepatutnya hasil penelaahan diperoleh dari kooperasi dengan orang lain. Konsep berlatih dalam kelompok seperti ini memungkinkan siswa kerjakan dapat bertukar pengalaman dan berbagi ide antara yang suatu dengan yang lain. Hasil belajar diperoleh berusul “sharing” antar teman, antar kelompok, dan antara yang senggang dengan yang belum adv pernah (Trianto, 2007).

5. Pemodelan (Modelling)

Pemodelan maksudnya ada ideal nan dapat di tiru dalam sebuah pendedahan keterampilan atau butir-butir tertentu. Pola itu bisa berupa mandu mengoperasikan sesuatu alias hawa memberi contoh pendirian mengerjakan sesuatu. Dalam penataran
Contextual Teaching and Learning
(CTL), guru bukan semata model. Arketipe dapat dirancang dengan mengikutsertakan murid (Trianto, 2007).

6. Refleksi (Reflection)

Refleksi merupakan proses pengendapan pengalaman yang sudah lalu dipelajari dengan cara mengurutkan pula kejadian atau peristiwa penataran yang sudah lalu dilalui. Dalam pembelajaran
Contextual Teaching and Learning
(CTL), guru mengasihkan kesempatan pada peserta cak bagi merenung atau mengingat kembali apa nan telah disampaikannya setiap berparak proses pembelajaran (Trianto, 2007).

7. Penilaian nan Sebenarnya (Authentic Assesment)

Assesment
merupakan proses akumulasi berbagai ragam data nan boleh memberikan bayangan perkembangan membiasakan siswa. Data yang dikumpulkan melalui kegiatan penilaian bukanlah buat mencari maklumat tentang perolehan belajar pelajar. Pembelajaran yang benar sudah seharusnya ditekankan plong upaya membantu murid kiranya mampu mempelajari, lain ditekankan pada diperolehnya sebanyak mungkin embaran di akhir pembelajaran (Trianto, 2007).

Lalu bagaimana menerapkan metode pendedahan ini ya, Master Pintar? Menurut Shoimin (2017), contoh implementasi langkah penataran CTL adalah sebagai berikut. :

No.

Kegiatan

Perilaku Temperatur

1.

Kegiatan Awal/Pendahuluan

  1. Guru menyiagakan petatar secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses penelaahan.
  2. Apersepsi bak penggalian deklarasi tadinya siswa terhadap materi nan akan diajarkan.
  3. Hawa mengutarakan maksud penerimaan dan pokok-pokok materi nan akan dipelajari.
  4. Penjelasan akan halnya pembagian kelompok dan mandu belajar

2.

Kegiatan Inti

  1. Siswa bekerja intern kelompok memecahkan permasalahan yang diajukan guru. Master berkeliling lakukan memandu proses penuntasan permasalahan.
  2. Murid wakil kelompok mempresentasikan hasil penyelesaian dan alasan atas jawaban permasalahan yang diajukan guru.
  3. Siswa dalam kerumunan menyelesaikan makao kerja nan diajukan master.
  4. Guru berkeliling bakal mencamkan, memotivasi, dan memfasilitasi kerjasama.
  5. Siswa wakil kelompok mempresentasikan hasil kerja kelompok dan kelompok nan lain menanggapi hasil kerja kelompok nan mendapat tugas.
  6. Dengan mengacu plong jawaban siswa, melalui wawancara hawa dan petatar membahas cara penyelesaian komplikasi yang tepat.
  7. Master mengadakan refleksi dengan meminang kepada siswa tentang hal-keadaan nan dirasakan peserta, materi nan belum dipahami dengan baik, kesan dan pesan sejauh mengikuti pendedahan.

3.

Kegiatan Akhir/Penutup

  1. Hawa dan murid membuat kesimpulan cara menyelesaikan soal cerita.
  2. Siswa melakukan lembar tugas.
  3. Siswa menukarkan lawe tugas satu dengan yang lain, lembar tugas kontan memberi nilai pada lawe tugas sesuai kesepakatan yang telah diambil (ini dapat dilakukan apabila waktu masih tersuguh).

Guru Pintar, pembelajaran dengan metode
Contextual Teaching and Learning
(CTL) ternyata membagi banyak hal positif. Selain mewujudkan peserta jaga bisa bertambah menjaga diri di masa pandemi ini,  mereka juga relatif bertambah cepat peka adapun materi yang diberikan.

Sepanjang ini mereka terus terpapar dengan berbagai warta selama berada di apartemen. Proses KBM (kegiatan belajar mengajar) pun berjalan dengan makin hidup karena peserta didik bisa terkebat diskusi tentang topik-topik nan telah didengar maupun diperbincangkan, baik di televisi maupun di lingkungan apartemen. Penerapan metode CTL diharapkan dapat meminimalisir problem-masalah nan ada internal pembelajaran daring di masa epidemi, sehingga proses belajar menjadi lebih baik.

Semangat, Guru Mandraguna 🙂

Referensi :

  1. Fadhli, Y. R., & Yoenanto, N. H. (2021). Efektivitas pelatihan contextual teaching and learning (CTL) maslahat meningkatkan kompetensi pedagogik guru sekolah dasar di Pulau Sebatik. Jurnal Psikologi Talenta, 6(2), 1-11.
  2. Komalasari, K.(2012). The Effect Of Contextual Learning in Civic Education on Students’ Civic Skills. Internasional Journal for Educational Studies.
  3. Shoimin, A. (2017). 68 Model Pengajian pengkajian Inovatif dalam Kurikulum 2022. Yogyakarta: Ar-Ruz Ki alat
  4. Susanto, A. (2016). Manajemen Peningkatan Prestasi Suhu Konsep Kebijakan dan Implementasinya. Cimanggis: Prenada Media Group.
  5. Trianto. (2007). Inovasi Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

Source: https://akupintar.id/info-pintar/-/blogs/metode-contextual-teaching-and-learning-ctl-dalam-pembelajaran-di-masa-pandemi




banner

×