Mengapa Kita Harus Mempelajari Asmaul Husna

Mengenal dan mempelajari etiket-merek dan sifat-resan Allah sangatlah agung, penuh dengan kepentingan dan keutamaan, serta mengandung beraneka ragam buah dan manfaatnya.

Keutamaan dan keluhuran perihal mendalami guna-guna
Al-Asma` Al-Husna

akan lebih jelas dengan memperhatikan beberapa keterangan berikut.

Permulaan: ilmu tentang etiket-nama dan sifat-resan Allah yakni ilmu yang paling mulia dan minimal utama, yang kedudukannya minimal tinggi dan derajatnya paling kecil agung. Tentunya situasi ini sangat dimaklumi karena keluhuran suatu ilmu pengetahuan gelimbir kepada jenis pengetahuan yang dipelajari kerumahtanggaan hobatan itu. Sementara itu, telah dimaklumi sekali lagi bahwa tiada nan makin sani dan makin utama daripada ilmu adapun nama-nama dan sifat-rasam Yang mahakuasa yang terkandung dalam Al-Qur`an yang mulia dan Sunnah Nabi
shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Abu Bakr Ibnul ‘Araby
rahimahullah
berkata, “Kebesaran sebuah mantra bergantung kepada apa-apa yang diilmui padanya. Padahal, (mengenal Yang mahakuasa)
Al-Bari

merupakan semulia-mulia pengetahuan. Oleh karena itu, mengilmui stempel-nama-Nya adalah ilmu yang paling mulia.”[1]

Maka itu karena itu, mempelajari dan mendalami makna
Al-Asma` Al-Husna

adalah amalan nan paling terdahulu dan mulia.

Kedua: mengenal Allah dan memahami etiket-stempel dan resan-rasam-Nya akan meninggi kecintaan hamba kepada
Rabb-nya, akan membuat seorang hamba semakin mengagungkan dan mengembungkan-Nya, lebih mengikhlaskan segala harapan dan tawakkal hanya kepada-Nya, serta membuat rasa takutnya terhadap Sang pencipta semakin mendalam. Tatkala pengetahuan dan pemahaman seorang hamba akan nama-nama dan sifat-sifat
Rabb-nya semakin kuat dan benar-benar, akan semakin kuat pula tingkat penghambaannya kepada Allah, semakin tulus sikap berserah dirinya  kepada syariat Allah, serta semakin takluk kepada perintah Allah dan semakin jauh meninggalkan pantangan-Nya.

Ketiga: mengenal Sang pencipta dengan tera-tanda dan sifat-adat-Nya adalah radiks keyakinan dan, dengan itu pula, iman akan semakin bertambah.

Syaikh Abdurrahman bin Cakrawalaashir As-Si’dy
rahimahullah
berkata, “Sesungguhnya, mengimani dan mengenal
Al-Asma` Al-Husna

mencakup tiga varietas tauhid: tauhid
rubûbiyyah, tauhid
ulûhiyyah, dan tauhid
Al-Asma` wa Ash-Shifat. Tiga tipe tauhid ini adalah perputaran dan ruh iman, serta pokok dan puncak (keimanan). Oleh karena itu, setiap kali pengetahuan hamba akan nama-nama dan sifat-sifat Allah semakin bertambah, akan bertambah pun keagamaan dan akan semakin kuat keyakinan (hamba) tersebut.”[2]

Demikian juga sebaliknya, boleh jadi saja yang pengetahuannya tentang label-nama dan adat-kebiasaan Sang pencipta kurang, sedikit pula keimanannya.

Siapa pun yang mengenal Allah, anda akan mengenal segala sesuatu selain Sang pencipta. Belaka, siapa-siapa yang kondisinya lebih lagi sebaliknya, perhatikanlah firman-Nya,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ.

“Dan janganlah kalian sama dengan hamba allah-makhluk yang lalai terhadap Almalik maka Allah menjadikan mereka lupa terhadap diri mereka koteng. Mereka itulah orang-khalayak fasik.”
[Al-Hasyr: 19]

Cermatilah ayat di atas. Tatkala seseorang pangling terhadap Allah, Yang mahakuasa membuatnya lupa terhadap dirinya seorang, lupa terhadap apa-apa yang merupakan kebaikannya, serta lupa terhadap sebab-sebab keberuntungannya di bumi dan alam baka.

Keempat: selayaknya Allah
Subhanahu wa Ta’ala

mengadakan makhluk yang sebelumnya mereka tidaklah pernah tersalurkan dan tidak pernah tersebut. Allah
‘Azza wa Jalla
sekali lagi memudahkan segala sesuatu yang ada di langit dan di manjapada untuk mereka serta menyerahkan berbagai enak kepada mereka yang tidak mana tahu dapat dijumlah dan dihitung. Seluruh hal tersebut adalah agar mereka mengenal Tuhan dan menyembah-Nya. Almalik
Jalla Sya`nuhu
bersuara,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا.

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit, sedemikian itu pula bumi. Perintah-Nya bermain padanya agar kalian mengetahui bahwa Yang mahakuasa Maha Kuasa atas barang apa sesuatu, dan sesungguhnya Allah, guna-guna-Nya tekun meliputi segala apa sesuatu.”
[Ath-Thalaq: 12]

Almalik
Tabaraka wa Ta’ala

berkata pula,

قُلْ أَئِنَّكُمْ لَتَكْفُرُونَ بِالَّذِي خَلَقَ الْأَرْضَ فِي يَوْمَيْنِ وَتَجْعَلُونَ لَهُ أَنْدَادًا ذَلِكَ رَبُّ الْعَالَمِينَ. وَجَعَلَ فِيهَا رَوَاسِيَ مِنْ فَوْقِهَا وَبَارَكَ فِيهَا وَقَدَّرَ فِيهَا أَقْوَاتَهَا فِي أَرْبَعَةِ أَيَّامٍ سَوَاءً لِلسَّائِلِينَ. ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ.

“Katakanlah, ‘Sememangnya, patutkah kalian kafir terhadap Nan menciptakan bumi kerumahtanggaan dua tahun dan mengadakan sekutu-perkongsian kerjakan-Nya? (Yang berperilaku) demikian itulah
Rabb
umbul-umbul segenap.’



Di bumi itu, Dia menciptakan gunung-dolok yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan padanya Beliau menentukan kadar makanan-makanan (penduduk)nya privat empat perian. (Penjelasan itu ibarat jawaban) bagi orang-orang yang bertanya.
Kemudian, Engkau menumpu langit, semenjana langit itu masih yakni tabun, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada mayapada, ‘Datanglah kalian berdua menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa.’ Keduanya menjawab, ‘Kami datang dengan suka hati.’.”
[Fushshilat: 9-11]

Allah
‘Azza Dzikruhu
pula menyatakan,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ. مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ. إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِيْنُ.

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, kecuali cak agar mereka menyembah-Ku.
Aku lain menghendaki peranakan sedikitpun dari mereka tidak pula menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.
Sepantasnya Yang mahakuasa, Dialah Maha Pemberi Alat pencernaan Yang Mempunyai Kekuatan lagi Silam Ki ajek.”
[Adz-Dzariyahorizon: 56-58]

Oleh karena itu, kampanye sendiri hamba dalam mengenal dan mempelajari cap-nama dan aturan-rasam Allah yaitu sesuai dengan maksud penciptaannya. Meninggalkan dan membenamkan situasi tersebut tergolong melalaikan tujuan penciptaannya. Karena, sangatlah lain pas seorang insan nan lemah yang telah mendapatkan beragam variasi keutamaan serta sudah lalu merasakan heterogen belas kasih dan sedap Yang mahakuasa, tetapi ia jahil terhadap
Rabb-nya serta melongok berpunca mengenal kebesaran, stempel-nama, dan sifat-aturan-Nya.

Kelima:
senyatanya Allah
Subhasintaksis wa Ta’ala

mencintai keunggulan-segel dan sifat-sifat-Nya serta mencintai timbulnya pengaruh nama-nama dan adat-sifat-Nya kepada makhluk. Tentunya hal ini merupakan bagian berasal kesempurnaan Allah dengan segel-nama dan sifat-sifat-Nya.

Di antara nama-nama Yang mahakuasa
‘Azza wa Jalla
yakni
Ar-Rahman
dan
Ar-Rahim[3] yang Maha merahmati basyar dengan berjenis-jenis nikmat. -Sebagai contoh-, perhatikanlah surah
Ar-Rahmafalak, dari awal hingga akhir surah, nan menunjukkan rahmat Almalik yang maha luas. Pada awal surah, Allah
Subhatata bahasa wa Ta’ala

berfirman,

الرَّحْمَنُ. عَلَّمَ الْقُرْآنَ. خَلَقَ الْإِنْسَانَ. عَلَّمَهُ الْبَيَانَ. الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ. وَالنَّجْمُ وَالشَّجَرُ يَسْجُدَانِ. وَالسَّمَاءَ رَفَعَهَا وَوَضَعَ الْمِيزَانَ. أَلَّا تَطْغَوْا فِي الْمِيزَانِ. وَأَقِيمُوا الْوَزْنَ بِالْقِسْطِ وَلَا تُخْسِرُوا الْمِيزَانَ. وَالْأَرْضَ وَضَعَهَا لِلْأَنَامِ. فِيهَا فَاكِهَةٌ وَالنَّخْلُ ذَاتُ الْأَكْمَامِ. وَالْحَبُّ ذُو الْعَصْفِ وَالرَّيْحَانُ. فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ.

“(Allah) Yang Maha Merahmati,

Yang sudah lalu mengajarkan Al-Qur`an.

Sira menciptakan manusia,

Mengajarnya agar pandai berbicara.

Matahari dan bulan (beredar) menurut perhitungan.

Bersemi-tumbuhan dan pepohonan menunduk kepada-Nya. Dan Dia sudah lalu menyaringkan langit dan menurunkan nisbah (keadilan) supaya kalian jangan melampaui batas tentang nisbah itu.

Dan tegakkanlah timbangan itu secara adil dan janganlah kalian mengurangi neraca itu.

Dan Allah telah meratakan bumi cak bagi makhluk-(Nya).

Di mayapada itu suka-suka buah-buahan dan pohon tamar yang memiliki kelopak mayang.

Dan ponten-bijian yang berkulit dan rente-anakan nan baunya harum.

Maka enak
Rabb
kalian yang manakah yang kalian dustakan?”

[Ar-Rahman: 1-13]

Sang pencipta
‘Azza wa Jalla
pun berucap,

فَانْظُرْ إِلَى آثَارِ رَحْمَتِ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ ذَلِكَ لَمُحْيِ الْمَوْتَى وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ.

“Maka perhatikanlah kancah-mantan rahmat Halikuljabbar, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah ranah. Sesungguhnya (Rabb
yang berkuasa sebagaimana) demikian sopan-benar (berkuasa) meramaikan orang-sosok yang telah ranah. Dan Sira Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

[Ar-Rûm: 50]

Karena rahmat Allah, Allah mencintai hamba-hamba-Nya yang mempunyai adat merahmati basyar lain sebagai halnya yang ditunjukkan dalam nash-nash dalil nan sangat banyak.

Sang pencipta
Subhatata bahasa wa Ta’ala

yakni
Al-‘Alim
‘Yang Maha Mengetahui’ dan Allah mencintai sosok-khalayak yang berilmu sebagaimana dalam nash-nash dalil yang sangat banyak.

Allah yakni
At-Tawwab
‘Maha Menerima Taubat’ dan Allah mencintai turunan-orang yang bertaubat,

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ.

“Selayaknya Tuhan menaksir cucu adam-orang nan bertaubat dan menyukai orang-basyar yang menyucikan diri.”
[Al-Baqarah: 222]

Demikianlah seterusnya.

Ibnul Qayyim
rahimahullah
berkata, “Demikianlah keadaan tanda-nama Allah yang maha
husna
. Anak adam yang paling Dia cintai ialah boleh jadi saja yang bersifat dengan konsekuensi terbit (Al-Asma` Al-Husna

itu). Sedangkan, (makhluk) nan minimum Dia benci merupakan siapa saja nan berkarakter dengan kebalikan bersumber (Al-Asma` Al-Husna
itu). Oleh karena itu, (Yang mahakuasa) membenci makhluk kafir, zhalim, jahil, yang berhati gigih, bakhil, penakut, hina, dan bejat. Sedangkan, (Allah)
Subhagramatika
adalah
Jamil
‘Maha luhur, elok’, cinta kepada ketampanan;
Alim, cinta kepada jamhur;
Rahim, comar kepada orang yang merahmati;
Muhsin
‘Maha Memberi Maslahat’, bosor makan kepada orang yang berbuat kekuatan;
Syakûr
‘Maha Pembalas Jasa’, burung laut kepada manusia nan bersyukur;
Shabûr
‘Yang Maha Panjang hati’[4] cinta kepada orang yang bersabar;
Jawwad
‘Maha Dermawan’[5], sayang kepada orang-orang yang karim dan mengerjakan darmabakti;
Sattar
[6], buruk perut kepada
As-Sitr;
Qadir, mencela kelemahan -“dan muslim nan lestari lebih Engkau cintai daripada mukmin yang lemah”-[7];
‘Afûw
‘Maha Pemaaf’, gegares kepada rasam pemaaf; dan
Witr
‘Yang Maha Suatu’, cinta kepada yang witir[8]. Setiap hal yang Allah cintai yakni pengaruh dan konsekuensi semenjak merek-logo dan sifat-sifat-Nya. Sedangkan, setiap peristiwa yang Kamu benci berasal dari apa-apa yang bertentangan dan bentrok dengan (otoritas dan konsekuensi bersumber merek-nama dan adat-adat-Nya).”[9]

Kenam: makhluk yang serius mengenal Allah
‘Azza wa Jalla
akan beralasan dengan sifat-sifat dan perbuatan Yang mahakuasa terhadap segala sesuatu yang Dia perbuat dan barang apa sesuatu yang Dia syariatkan. Karena, seluruh kelakuan Allah adalah keadilan, keutamaan, dan hikmah, yang sudah lalu menjadi konsekuensi berusul tanda-nama dan sifat-sifat-Nya. Oleh karena itu, tiada satu apapun yang Beliau syariatkan, kecuali sesuai dengan konsekuensi tersebut. Sehingga, apa situasi nan Sang pencipta beritakan merupakan sesuatu nan hak dan moralistis, semenjana apa perintah dan pemali-Nya merupakan keadilan dan hikmah.

Misalnya, seorang hamba mengupas Al-Qur`an dan segala sesuatu yang Allah beritakan kepada makhluk melalui lisan para rasul tentang logo-logo, rasam-resan, dan perbuatan-Nya serta mengenai prasyarat menyucikan dan menggembungkan Allah terhadap apa sesuatu yang tidak layak. Pula, ia mengupas bagaimana perbuatan Sang pencipta kepada para wali yang memurnikan ibadah hanya kepada-Nya dan kenikmatan yang mereka peroleh karena itu, ataupun kamu memperhatikan bagaimana keadaan cucu adam-orang yang menentang-Nya dan kebinasan akibat ulah mereka. Berdasarkan hal ini, orang-manusia yang memahami stempel-tanda dan sifat-sifat-Nya akan berdalilkan bahwa Allah adalah satu-satu-Nya Ilah yang berhak diibadahi, “Nan Maha mampu atas segala apa sesuatu”, “Yang Maha Mengetahui segala sesuatu”, “Yang siksaan-Nya keras”, “Maha Pengampun kembali Maha Penyayang”, “Yang Maha Berkuasa lagi Maha Bijaksana”, “Yang Maha melakukan segala sesuatu nan Dia kehendaki”, dan seterusnya berupa hal-hal nan menunjukkan anugerah, keseimbangan, keutamaan, dan hikmah Halikuljabbar
Jalla wa ‘Ala
.

Apabila seorang hamba memaki kejadian di atas, tidaklah diragukan bahwa hal tersebut akan menambah keyakinannya, memperkuat imannya, menyempurnakan tawakkalnya, dan semakin menambah penyerahan dirinya kepada Allah.

Ketujuh: mengenal Yang mahakuasa dan mempelajari nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah perbisnisan yang dulu menguntungkan. Di antara keuntungannya adalah membuat jiwa menjadi sirep, hati menjadi tentram, dada menjadi lapang dan bersinar, merasakan kegagahan surga Firdaus plong hari kiamat, melihat tampang Allah Yang Maha Agung juga Maha Mulia, meraih keridhaan Allah, dan selamat bermula kemurkaan dan siksaan-Nya. Insya Halikuljabbar, keuntungan-keuntungan tersebut akan makin tampak pun pada jabaran
Al-Asma` Al-Husna

nan akan diterangkan dalam tulisan ini secara berbimbing.

Kedelapan: berilmu akan halnya nama-tanda dan aturan-sifat Tuhan ialah penjaga bersumber ketergelinciran, pembuka pintu amalan shalih, pemacu untuk menyongsong segala ketaatan, penghardik dari dosa dan maksiat, pembersih jiwa dari sikap-sikap tercela, penghibur puas masa musibah dan petaka, pengawal dalam menghadapi godaan syaithan, penyeru kepada akhlak mulia dan fadhilah, serta bukan sebagainya yang merupakan biji pelir dan manfaat hobatan
Al-Asma` Al-Husna
.

Kesembilan: mempelajari nama-jenama dan sifat-sifat Allah yaitu sumber akar resep untuk mencerna segala ilmu maklumat yang lain. Hal ini karena nan dipelajari -selain ilmu tentang Allah
Tabaraka wa Ta’ala
– terbagi dua:

  1. Makhluk-cucu adam yang diadakan dan diciptakan oleh Sang pencipta
    Ta’ala
    .
  2. Perintah-perintah yang, dengannya, Allah memerintah individu, baik riil perintah
    kauny
    maupun perintah
    syar’iy.

Sedangkan, Allah
Subhanahu wa Ta’ala

mutakadim bercakap,

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

“Ingatlah bahwa mencipta dan memerintah hanyalah kepunyaan (Allah).”
[Al-A’raf: 54]

Telah dimaklumi bahwa segala apa ciptaan dan perintah Allah adalah baik, dibangun di atas kemaslahatan, karunia, dan hadiah sayang cak bagi semesta manusia. Seluruh hal tersebut merupakan kekuasaan terbit kandungan
Al-Asma` Al-Husna
. Makanya karena itu, para jamhur mengatakan bahwa penciptaan dan perintah bersumber berbunga
Al-Asma` Al-Husna

Allah
Jalla Jalaluhu. Sebagaimana, segala sesuatu yang ada -selain Allah- adalah karena diadakan oleh Allah, sedang eksistensi selain-Nya adalah ikut kepada keberadaan-Nya, dan makhluk yang dicipta ikut kepada Nan Menciptakannya maka demikian pula ilmu mengenai Allah ialah sumber barang apa aji-aji yang tidak. Oleh karena itu, ampuh mengenai
Al-Asma` Al-Husna

adalah sumber ilmu pengetahuan yang tak.[10]

Kesepuluh: Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
berbicara,

إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ

“Sebenarnya Allah punya sembilan puluh sembilan logo, seratus kurang satu. Barangsiapa yang menghitung (nama-jenama) tersebut, ia akan dimasukkan ke intern taman firdaus.”

Insya Allah, akan datang, pembahasan yang berkaitan dengan makna menghitung
Al-Asma` Al-Husna
, bahwa maknanya tak hanya sekadar menjumlah dan menghafalkannya, melainkan pula mengetahui makna dan kandungannya sehingga tiada jalan bakal siapa saja nan ingin meraih keutamaan nan tersurat dalam hadits di atas, kecuali dengan mempelajari
Al-Asma` Al-Husna

sesuai dengan perkembangan nan benar dan pemahaman verbatim.

Kesebelas: ayat-ayat yang menyebutkan stempel-nama dan sifat-sifat Allah kedudukannya yang paling agung dalam Al-Qur`an Al-Murah hati melebihi ayat lain[11]. Oleh karena itu, ayat yang paling agung adalah ayat Geta -yang mengandung bilang sifat dan beberapa nama Allah- seperti nan diterangkan kerumahtanggaan hadits Ubay bin Ka’b
radhiyallahu ‘anhu
bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam
bertanya kepada beliau,

يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ أَتَدْرِي أَيُّ آيَةٍ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ مَعَكَ أَعْظَمُ قَالَ قُلْتُ


{ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ }


قَالَ فَضَرَبَ فِي صَدْرِي وَقَالَ وَاللَّهِ لِيَهْنِكَ الْعِلْمُ أَبَا الْمُنْذِرِ

“Duhai Abul Mundzir (Ubay), ayat segala apa yang minimal agung berbunga kitab Almalik yang kamu hafal?”
Saya (Ubay) menjawab, “Allah dan Nabi-Nya yang lebih memafhumi.” Beliau (kembali) menanya,
“Wahai Abul Mundzir, ayat apa yang paling agung berusul kitab Allah yang kamu hafal?”
Saya menjawab, “Allahu La
Ilaha Illa
Huwal Hayyul Qayyûm

[ayat Singgasana],” maka beliau memukul dadaku cak sambil berkata,
“Demi Almalik, ilmu akan membahagiakanmu, aduhai Abul Mundzir.”
[12]

Demikian pula keberadaan dan keutamaan surah Al-Fatihah yang sudah dikenal dan dimaklumi, di antaranya adalah perbuatan nabi nabi muhammad Rasul
shallallahu ‘alaihi wa sallam
dalam menyifatkan surah Al-Fatihah,

هِيَ أَعْظَمُ السُّوَرِ فِي الْقُرْآنِ

“(Al-Fatihah) itu adalah seagung-agung surah kerumahtanggaan Al-Qur`an.”
[13]

Kembali keutamaan surah Al-Ikhlash yang mengandung nama-nama dan sifat-sifat Allah. Riuk suatu keutamaannya tertera dalam sabda Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّهَا لَتَعْدِلُ ثُلُثَ الْقُرْآنِ

“Demi Yang jiwaku produktif di tangan-Nya, sebenarnya (surah Al-Ikhlash) itu senilai sepertiga Al-Qur`an.”
[14]

Keterangan di atas menunjukkan keagungan dan kemuliaan mempelajari nama-nama dan sifat-sifat Allah
‘Azza wa Jalla.

Demikian sejumlah kejadian yang menunjukkan pentingnya mempelajari
Al-Asma` Al-Husna

dan alangkah perlunya seorang hamba untuk mendalaminya.

Teradat kami ingatkan pula bahwa pembahasan
Al-Asma` Al-Husna

bersumber dari Al-Qur`an dan Sunnah, enggak bersumber dari akal bulus, perhatian, eksperimen, inspirasi, dan adat istiadat. Ini adalah pendirian dasar yang harus kami ingatkan dalam tulisan ini menghafal bahwa banyak di antara kabilah muslimin yang tertipu dengan kepandaian sebagian orang, nan sahaja berlari di birit dunia maupun terkungkung oleh hawa nafsu dan was-was syaithan, dengan menyanyikan rezeki dan khasiat
Al-Asma` Al-Husna

yang tidak perkariban ditunjukkan maka dari itu kursus Al-Qur`an dan Sunnah.

Semoga Tuhan melancarkan apa sebab kebaikan buat kita semua dan menjauhkan kita semua berpangkal barang apa kejelekan.
Wallahu Ta’ala
A’lam
.



[1] Bacalah
Ahkam Al-Qur`akaki langit
2/793 -dengan cengkau kitab
Asma`ullah wa Shifatuhu
karya Al-Asyqar kejadian. 23-.

[2]
At-Taudhih wa Al-Bayan Li Syajarah Al-Iman
hal. 41.

[3] Nama
Ar-Rahmahorizon
dan
Ar-Rahim
berpokok mulai sejak kata
rahmat. Terwalak rincian makna kata
rahmat
pada nama
Ar-Rahmat
dan prolog
kasih
sreg stempel
Ar-Rahim. Insya Allah, penjelasan tentang makna dan makanan kedua nama itu akan datang.

[4] Ada perbincangan seputar keabsahan penamaan ini. Insya Allah, pembahasannya akan cak bertengger.

[5] Ada perbincangan seputar keabsahan penamaan ini. Insya Halikuljabbar, pembahasannya akan datang.

[6] Ada perbincangan seputar keabsahan penamaan ini. Insya Halikuljabbar, pembahasannya akan datang.

[7] Petikan dari hadits Bubuk Hurairah
radhiyallahu ‘anhu
riwayat Muslim.

[8]
Yang witir
mempunyai banyak kandungan makna. Insya Yang mahakuasa, hal ini akan diuraikan internal pembahasan keunggulan
Al-Witr.

[9]
‘Idah Ash-Shabirin
hal. 241. Baca jugalah
Madarij As-Salikihorizon
1/420 dan
Miftah Dar As-Sa’adah
1/3.

[10] Demikian makna keterangan Ibnul Qayyim n domestik kitabnya,
Bada`i’ Al-Fawa`id
1/163.

[11] Bacalah keterangan Ibnu Taimiyah dalam
Da` At-Ta’arudh baina Al-‘Aql wa An-Naql
5/310-313.

[12] Dikeluarkan oleh Mukmin no. 810 dan Abu Dawud no. 1460.

[13] Dikeluarkan oleh Al-Bukhary, Tepung Dawud no. 1458, An-Nasa`iy 2/193, dan Ibni Majah no. 3785 berusul Abu Sa’id Al-Mu’alla
radhiyallahu ‘anhu.

[14] Dikeluarkan oleh Al-Bukhary, Duli Dawud no. 1461, dan An-Nasa`iy 2/171 dari Debu Sa’id Al-Khudry
radhiyallahu ‘anhu. Dikeluarkan sekali lagi oleh Mukmin no. 812, At-Tirmidzy no. 2899, dan Bani Majah no. 3738 mulai sejak Abu Hurairah
radhiyallahu ‘anhu. Sekali lagi dikeluarkan oleh Muslim no. 811 berpangkal Abu Darda`
radhiyallahu ‘anhu.

Source: https://dzulqarnain.net/pentingnya-mengenal-al-asma-al-husna.html




banner

×