Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid Adalah

Ilustrasi hukum tajwid dalam mendaras Al-Quran. Foto: Pixabay.com


Buat menetapi teks Al-Quran, penting cak bagi umat mukminat lakukan memaklumi syariat tajwid. Sebab, tajwid merupakan kaidah yang harus diperhatikan moga referensi ayat suci yang dilantunkan benar dan kekuatan sesungguhnya tepat.


Sebagai pedoman usia yang wajib dibaca, dipelajari, serempak diamalkan, mendaras Al-Qur’an bukan dapat dibaca secara merambang. Inilah mengapa, terdepan bakal setiap muslim cak bagi memahami hobatan tajwid.


Lantas, apa yang dimaksud dengan aji-aji tajwid? Apa hukum mempelajarinya? Simak uraiannya tiap-tiap berikut ini.


Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid

Ilustrasi hukum mempelajari ilmu tajwid dalam membaca Al-Quran. Foto: Pixabay.com



Apa hukum mempelajari ilmu tajwid?


Hukum mempelajari aji-aji tajwid yakni fardu kifayah atau kewajiban bersama untuk mukalaf. Membaca Al-Qur’an menjadi teladan bila disertai pemahaman dan pengamalan ilmu tajwid. Hal tersebut salah satunya tertuang intern surah Al-Baqarah ayat 121 yang berbunyi:


اَلَّذِيۡنَ اٰتَيۡنٰهُمُ الۡكِتٰبَ يَتۡلُوۡنَهٗ حَقَّ تِلَاوَتِهٖؕ اُولٰٓٮِٕكَ يُؤۡمِنُوۡنَ بِهٖ‌ ؕ وَمَنۡ يَّكۡفُرۡ بِهٖ فَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡخٰسِرُوۡنَ

“Makhluk-anak adam yang sudah lalu Kami beri kitab, mereka membacanya dengan bacaan yang sesungguhnya, mereka itulah yang beriman kepadanya. Dan barangsiapa ingkar kepadanya, mereka itulah khalayak-bani adam yang rugi.”


Ayat di atas menunjukkan bahwa mengamalkan ilmu tajwid yaitu sebuah bagasi yang harus dilakukan oleh tiap-tiap mukminat. Sebab, ilmu tajwid boleh dipahami sebagai upaya memenuhi pustaka melalui huruf-huruf alias kalimat-kalimat di dalam Al-Qur’an. Dengan begitu bacaan yang dilantunkan menjadi terang, terkonsolidasi, perlahan, dan tak terburu-kejar.


Silam,


bagaimana hukum mempelajari hobatan tajwid?


Mengutip dari sosi


Belajar Cepat Guna-guna Tajwid


karya Khalillurrahman El-Mahfani, hukum dasar mempelajari ilmu tajwid merupakan fardu kifayah atau wajib dilakukan. Supaya demikian, bila di suatu gelanggang alias wilayah ada umat muslim yang mempelajarinya, kewajiban mukminat lainnya menjadi ranggas.


Akan tetapi, berbuat ilmu tajwid hukumnya fardu ‘ain bagi tiap-tiap muslim. Dengan pembukaan lain, mempelajari dan mengamalkan mantra tajwid sangat penting cak bagi diterapkan maka dari itu umat Islam.


Tajwid ialah Kaidah Membaca Al-Qur’an dengan Baik

Ilustrasi membaca Al-Quran. Foto: Pixabay.com


Sehabis mengetahui hukum mempelajari guna-guna tajwid, karuan kita cak hendak mengetahui apakah yang dimaksud dengan hukum tajwid?


Signifikasi tajwid menurut bahasa


pecah dari kata berbudi Arab ‘Jawwada’ yang berarti mengamalkan sesuatu dengan indah, bagus, dan membaguskan.


Sementara itu, n domestik aji-aji qiraah, tajwid yaitu mengeluarkan huruf dari tempatnya dengan memberikan sifat yang dimiliki. Berbagai kancah keluarnya leter hijaiyah tersebut boleh menentukan jenis dan hukum tajwid yang berperan.


Dengan demikian, ilmu hukum tajwid adalah ilmu yang mempelajari cara mendaras Al-Qur’an dengan baik dan moralistis. Tujuannya agar makna di dalamnya menjadi sempurna detik dilantunkan. Cak bagi mengerti hukum


tajwid arketipe


beserta contohnya, simak pejelasannya di asal ini.


15 Hukum Tajwid

Ilustrasi syariat tajwid dalam Al-Quran. Foto: Pixabay.com


Di dalam referensi Al-Qur’an, terdapat macam-varietas tajwid




yang harus dipahami dengan saksama. Tujuannya bikin membedakan pelafalan tiap-tiap syariat wacana nan berlaku. Berbagai rupa


macam hukum tajwid


tersebut bisa dikelompokkan berdasarkan ahkamul leter atau hubungan antar-abjad.


Menyadur semenjak pokok berjudul


Aji-aji Tajwid Praktis


yang disusun oleh Muhammad Amri Amir, berikut


contoh hukum tajwid





lainnya berdasarkan ahkamul huruf:



1. Syariat nun mati dan tanwin


N domestik hobatan tajwid, hukum nun sunyi atau tanwin boleh dibagi menjadi empat jenis, di antaranya:


Secara bahasa, izhar halqi artinya jelas atau tampak. Sedangkan, secara istilah jenis hukum tajwid yang satu ini memiliki pengucapan nun sukun atau tanwin yang sesuai dengan makhrajnya. Adapun huruf izhar halqi, yaitu Alif atau Hamzah, Kha’,’Indra penglihatan, Ha’, Ghain, dan Ha’. Contohnya سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ, yang dibaca salaamun hiya hattaa mat la’il fajr karena terdapat nun senyap bertemu huruf ha’.


Idgham secara bahasa berarti meleburkan maupun mengegolkan. Berdasarkan istilahnya, hukum bacaan yang satu ini memiliki pengucapan nun sukun ataupun tanwin yang melebur disertai atau tanpa dengungan. Inilah mengapa, hukum idgham terbagi menjadi idgham bighunnah alias disertai dengungan dan idgham bilaghunnah atau tanpa disertai dengungan.


Huruf dalam idgham bighunnah terdiri berpangkal Nun, Mim, Wau, Ya’. Misalnya مِنۡ مَّالٍ وَّبَنِيۡنَۙ yang dibaca mimmaaliw-wa baniin karena terwalak tanwin bertemu huruf wau.


Sedangkan fonem dalam idgham bilaghunnah terdiri dari Lam dan Ro’. Transendental bacaannya يَكُنْ لَّهُ yang dibaca yakul-lahu, karena nun sukun bersabung huruf lam.


Iqlab merupakan hukum teks dalam Al-Qur’an nan terjadi bila nun senyap atau tanwin bertemu dengan huruf Ba’. Hal tersebut menyebabkan jenis wacana ini membentangkan obstulen huruf mim mati. Sebab, iqlab n kepunyaan manfaat mengganti suatu huruf menjadi huruf lainnya. Misalnya مِنْۢ بَعْدِ nan dibaca mimm-ba’di.



  • Hukum teks ikhfa’ haqiqi


Ikhfa berarti menopengi. Syariat referensi ini berlaku apabila huruf nun mati ataupun tanwin beradu lambang bunyi Ta’, Tha’, Tsa’, Jim, Dal, Dzal, Za’, Zha’, Sin, Syin, Shad, Dhad, Fa’, Qaf, Kaf. Misalnya مِن شَرِّ مَا خَلَقَ nan dibaca Minnn syarri maa kholaq.


Seperti namanya, hukum tajwid yang satu ini merupakan perjumpaan antara mim mati dengan huruf tertentu. Adapun hukum mim mati terbagi menjadi tiga jenis, antara enggak:



  • Hukum teks ikhfa’ syafawi


Hukum bacaan yang suatu ini yakni pertemuan antara mim sunyi dengan huruf Ba’. Mandu bacanya pun rapat persaudaraan sebabat dengan syariat teks iqlab. Misalnya رَبُّهُمْ بِذَنْبِهِمْ فَسَوَّاهَا yang dibaca rabbuhum bidzammbihim fasawwaahaa


Hukum bacaan nan juga disebut dengan idgham mutamasilain ini terjadi ketika mim mati berlanggar huruf mim. Cara melafalkannya, yakni dengan merangkap huruf mim disertai dengungan. Contoh bacaan idgham mimi atau idgham mutamasilain yaitu وَهُمْ مِّنْۢ بَعْدِ nan dibaca wahummin-ba’di.



  • Hukum pustaka izhar syafawi


Izhar syafawi terjadi saat mim mati bertemu dengan salah satu huruf hijaiyah selain mim dan ba’. Sama halnya dengan izhar halqi, cara membaca hukum bacaan yang satu ini harus jelas. Misalnya لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ yang dibaca lam yalid walam yuulad.


Idgham shaghir ialah hukum wacana bila abjad yang diidghamkan (huruf pertama) berupa leter lengang, sementara itu huruf kedua berupa huruf hidup. Hukum bacaan idgham shaghir terbagi menjadi tiga keberagaman, di antaranya:



  • Hukum bacaan idgham mutamatsilain


Idgham mutamatsilain, yakni syariat bacaan tajwid nan terjadi jika satu huruf bertemu dengan huruf yang sederajat. Misalnya huruf Dal bersesuai huruf Dal. Misalnya ﻗَﺪ ﺩَﺨَﻠُﻮاْ yang dibaca qad-dakhaluu.



  • Hukum wacana idgham mutajanisain




Idgham mutajanisain


merupakan hukum wacana saat dua huruf yang mempunyai makhraj nan sederajat. Akan hanya enggak memiliki sifat yang sederajat dan silih bertumbuk. Misalnya, aksara Ta’ beradu Tha, Dzal, dan huruf Zha, Dal bertemu Ta’ dan sebagainya. Contohnya فَمَا حَصَدْتُمْ dibaca famaa khashattum, tak famaa khashad tum.



  • Hukum bacaan idgham mutaqaribain


Idgham mutaqaribain, yaitu bertemunya dua huruf yang memiliki makhraj dan sifat nan dempang sama, seperti huruf Mim beradu Ba’, lambang bunyi Kaf berlanggar Qaf. Misalnya نَخْلُقْكُّمْ dibaca nakhlukkum, bukan nakhluq kum.


Jenis hukum tajwid yang suatu ini terdiri pecah fonem alif, wau, dan ya’ dalam kondisi lengang atau disaktah. Hukum mad memiliki hierarki nan bergantung sreg harakat pada leter. Variasi hukum mad, di antaranya:


Mad thabi’i atau mad asli merupakan bacaan mad nan terjadi bila terdapat alif setelah fathah, ya’ sukun setelah kasrah, dan wau selepas dhammah. Cara membacanya harus sejauh dua harakat atau satu alif. Misalnya, كتَا بٌ – يَقُوْلُ – سمِيْعٌ, nan masing-masing dibaca kitaabun, yaquulu, samii’un.


Mad far’i adalah mad yang merupakan syariat tambahan dari mad thabi’i (andai syariat asalnya), yang disebabkan maka itu hamzah atau sukun. Mad far’i terbagi menjadi 14 macam, salah satunya mad wajib muttasil.


Mad wajib muttasil terjadi bila mad thabi’i bertemu dengan hamzah lega satu kalimat maupun ayat. Sempurna bacaannya seperti berikut, سَوَآءٌ – جَآءَ – جِيْءَ yang dibaca sawaaa’un, jaaa a, jiii a.


Qalqalah dapat dipahami perumpamaan getaran alias pantulan. Sementara menurut istilah dalam ilmu tajwid, qalqalah berarti memantulkan vibrasi suara detik membaca lafal yang terletak sreg huruf qalqalah yang berharakat sukun atau diwaqafkan.


Tentang aksara qalqalah terdiri lima jenis, merupakan ba’, jim, dal, tha, dan qaf. Qalqalah terbagi menjadi dua spesies, yaitu:



  • Hukum pustaka qalqalah sugra


Varietas qalqalah nan satu ini terjadi apabila huruf qalqalah mewah di tengah lafal dengan harakat sukun. Cara membacanya ialah dengan mengikutsertakan pantulan yang bukan sesak langgeng. Contohnya إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ



  • Hukum pustaka qalqalah kubra


Berbeda dengan variasi qalqalah sebelumnya, qalqalah kubra terjadi apabila ada salah satu abjad qalqalah nan gemuk di akhir lafal yang berharakat sukun, fathah, kasrah, damah, dan tanwin, ki ajek dibaca waqaf. Pantulannya pun cukup abadi. Misalnya قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِۙ


Itulah jabaran mengenai hukum tajwid, variasi, dan contohnya. Dengan memahami tiap jenis hukum di atas, peristiwa itu bisa mempermudah kita dalam melafalkan ayat Al-Qur’an secara tepat. Kiranya bermakna!

Source: https://kumparan.com/kabar-harian/hukum-tajwid-pengertian-jenis-dan-contohnya-1xcLJ8f61R5




banner

×