Dalam Ajaran Taurat Hari Tuhan Bertepatan Dengan Hari

al-islahonline.com : Mutakadim sangat resmi turunan bekerja mulai hari Senin hingga Jum’at dan libur pada hari Sabtu maupun Minggu, dan sangking lumrahnya, tak terbesit sedikitpun bikin memasalahkan mengapa harus perlop plong hari Sabtu/Pekan atau mempertayakan bagaimana jika liburnya diganti menjadi masa-hari lainnya.

Kita perkirakan, tak ada seorangpun nan mempertanyakan kejadian tersebut adalah karena menganggap libur lega hari apapun tersurat Sabtu dan Minggu enggak memiliki arti apapun kecuali sebagai hari buat istirahat setelah berkreasi lega hari-hari sebelumnya, atau mana tahu karena mereka menganggap tidak ada ketentuan apapun kecuali supaya ada keseragaman hari kerja dan hari libur di seluruh dunia.

Benarkah libur kerja plong hari Sabtu maupun Ahad lain mempunyai arti apapun dan tanpa ganjaran apapun kecuali sebagai kebiasaan yang telah diterima secara sekaligus ?

Ternyata tidak, musim libur pada hari Sabtu dan Pekan tak tanpa keten-tuan dan tak tanpa latar belakang, namun, hal tersebut berhubungan sanding dengan ketentuan ajaran agama yaitu agama Ibrani dan Masehi.


Bakal agama Yahudi, Sabtu adalah masa sabat Tuhan, dan bagi agama Kristen Minggu ialah hari sabat Tuhan, di mana pada musim sabat, mereka harus mengkuduskannya kerumahtanggaan bentuk menghentikan aktivitas keduniaan, sehingga mereka libur bekerja pada hari Sabtu atau periode Minggu.

Hanya, sabat Tuhan tidaklah terjadi dua kali dalam satu minggu, sabat Sang pencipta hanya satu kali saja internal seminggu, waktu Sabtu namun maupun Minggu saja bukan dua-duanya.

Bagi umat Ibrani, yakin bahwa hari sabat Tuhan jatuh pada hari sabtu, sementara umat Kristiani optimistis musim sabat Almalik jebluk pada masa Minggu, padahal antara kedua agama tersebut berpegang pada kitab yang sama adalah nan mereka sebut Taurat, di n domestik kitab tersebut dijelaskan mengenai hari sabat Sang pencipta dan perintah Tuhan untuk mengkuduskannya, tentu saja hanya ada suatu hari sabat Almalik, namun Sabtu atau Minggukah sabat Tuhan itu ??

Sabat Tuhan

Sabat privat bahasa Ibrani yakni Syabbat yang pecah dari akar tunjang pengenalan Syavat yang berarti ‘nangkring’ atau ‘mengkhususkan’. Ayo kita kutip ayat nan menjelaskan makna memangkal tersebut :

Ketika Halikuljabbar pada hari ketujuh sudah menguasai pegangan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Anda puas tahun ketujuh dari segala apa pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu. Kejadian 2:2

Kutipan ayat di atas sudah lalu cukup mengklarifikasi makna sabat Tuhan yaitu hari di mana Tuhan menghentikan barang apa pekerjaan-NYA menciptakan langit dan bumi serta isinya sepanjang enam hari dan berhenti/sabat pada hari ketujuh. Yahudi dan Serani rujuk dengan signifikansi ini.

Bagi Yahudi dan Serani, mengkuduskan hari sabat adalah sebuah prakondisi dan yakni perintah yang kekal dari Tuhan :

“Maka haruslah hamba allah Israel memelihara tahun Sabat, dengan merayakan sabat, bebuyutan, menjadi perjanjian kekal. Antara Aku dan orang Israel maka inilah suatu peringatan cak bagi sejauh-lamanya, sebab enam hari lamanya Sang pencipta menjadikan langit dan mayapada, dan pada hari yang ketujuh Engkau mengetem berkarya untuk berlabuh.” (Jebolan 31:16-17).

Intern Taurat, mereka diperintahkan mengku duskan musim sabat dalam betuk menghentikan aktivitas keduniaan :

Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat : heksa- hari lamanya sira akan bekerja dan melakukan apa pekerjaanmu, tetapi hari ketujuh merupakan musim Sabat Tuhan, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan…. Keluaran 20:8-10

Itulah sebabnya khalayak-orang Yahudi dan Kristen nangkring bekerja puas tahun sabat dengan tujuan mengkuduskan hari sabat sebagaimana perintah Tuhan kepada mereka.

Namun, internal tingkatan praktek antara Yahudi dan Kristen terdapat perbedaan dalam menentukan musim yang dikuduskan, khalayak-cucu adam Ibrani menjadikan hari Sabtu sebagai musim nan yang dikuduskan sementara khalayak-basyar Serani menjadikan hari Pekan ibarat hari yang dikuduskan, makanya yang terjadi momen ini ialah terdapat dua periode yang dikuduskan ialah Sabtu dan Minggu sehingga ada dua hari cuti bekerja dalam satu ahad.

Sebagaimana yang telah kita periksa lega awal-semula uraian, tidak ada dua periode sabat kerumahtanggaan suatu minggu, sehingga bila terserah dua masa sabat dalam satu ahad, pasti ada yang salah dalam menentukan masa sabat.

Sabtu atau Minggu ?

Takdirnya dilihat dari guna-guna tata bahasa, antara perkenalan awal sabat dengan kata Sabtu ternyata memiliki akar tunggang kata yang sama yaitu :

SaBaT …. tanpa vokal menjadi …. S B Lengkung langit
SaBTu …. tanpa vokal menjadi …. S B Kaki langit

Adanya kesamaan antara sabat dan Sabtu, awet indikasinya bahwa Yahudi-lah yang bertambah tepat penentuan hari sabatnya ketimbang Kristen. Tetapi cak bagi umat Masehi boleh namun membalah dengan mengatakan kesamaan nama bukanlah menunjukkan sabat itu sendiri, karena tidak suka-suka firman Tuhan yang menjelaskan hari Sabtu merupakan periode sabat, tetapi yang Halikuljabbar jelaskan merupakan waktu sabat jatuh pada hari ketujuh.

Menurut orang Kristen, perbedaan ini terjadi karena adanya perbedaan penanggalan antara orang-orang Yahudi dengan orang-makhluk Kristen, orang-insan Yahudi memperalat penanggalan Ibrani dan manusia-orang Masehi menggunakan penanggalan Gregorian, dimana n domestik penanggalan Yahudi periode purwa adalah periode Ahad sehingga perian ketujuhnya merupakan hari sabtu, sementara dalam penaggalan Gregorian hari pertama adalah tahun senin sehingga masa ketujuhnya adalah waktu Minggu.

Penentuan waktu Pekan sebagai perian sabat Allah dengan menggunakan kalender gregorian sulitlah dikabulkan, karena Yesus sendiri ibarat manusia yang mereka agung-agungkan dan sebagai turunan panutan bagi mereka, justru memperalat takwim Yahudi yang menjadikan musim Sabtu sebagai hari sabat.

Dalam hal ini Yahudi jauh makin tepat ketimbang Kristen privat menentukan sabat Tuhan, bila umat Serani menyatakan bahwa hari Minggulah musim sabat Tuhan yang bermoral, peristiwa itu berarti anti dengan Yesus panutan mereka dan lagi secara tidak serentak umat Kristen telah menyatakan Yesus pelecok dalam menentukan periode sabat Tuhan.

Semua Masa Nirmala ?

Ternyata sebagian umat Kristen mengingat-ingat bahwa secara kitabiah masa Sabtulah musim sabat yang dimaksud Yang mahakuasa dan bukannya hari Minggu, keadaan itu karena mereka mencatat banyak bukti bahwa perian Sabtulah yang diperlakukan sebagai hari sabat oleh orang-orang nirmala dalam perjanjian lama termasuk Yesus.

Dari umat Serani nan menyadari kekeliruan tersebut ada yang pun konsisten menirukan ajaran Yesus seperti kelompok ADVENTIS hari ketujuh, namun ada juga nan tetap menjadikan hari Minggu sebagai hari sabat walaupun telah memafhumi secara tentu bahwa hari sabat Tuhan adalah hari Sabtu.

Kelompok ini berargumentasi bahwa semua hari bagus, makara tidak etis jika mengkuduskan musim-hari tertentu saja, karena Tuhan pasti memaklumi barangkali tetapi nan mengkuduskan diri-NYA di waktu apa hanya.

Ada kembali yang berargumentasi bahwa yang minimum berarti adalah sabatnya bukan harinya. Cak semau kita, mau membebaskan perian mana saja sebagai musim sabat itu tidak berguna, yang terpenting adalah hati kita bukan harinya, karena kita menyembah Tuhan bukan menyembah harinya.

Argumen-argumen tersebut di atas yakni pleidoi diplomatis sekaligus jenaka agar orang mencuaikan perintah awal yang terlampau jelas bahwa Tuhan mutakadim menjadikan hari ketujuh bagaikan perian sabat. Kalau memang semua hari bisa dijadikan hari sabat, lalu cak kenapa Tuhan memerintahkan bakal mengkuduskan waktu ke-tujuh/sabtu hanya sebagai hari sabat? Perintah itupun terdapat n domestik 10 perintah Tuhan yang ditulis dengan jari-jari-NYA sendiri.

Ingatlah dan kuduskanlah hari Sabat: … waktu ketujuh adalah hari Sabat TUHAN, Allahmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan…. Mantan 20: 8 & 10.

Mengimak katedral

Perlu diketahui, waktu Minggu bak tahun sabat dan hari pengkudusan baru ditetapkan plong tahun 364 M pada Konsili Laodikea jauh selepas Yesus berdakwah.

Padahal dalam Bible Yang mahakuasa mutakadim prospektif bagi bisa jadi saja yang tidak menginjak-injak syariat sabat dan tidak berbuat aktivitas keduniaan di perian sabat Tuhan, menamakan hari sabat laksana ‘perian kenikmatan’, perian nirmala Almalik ‘waktu yang mulia’, maka Allah akan memberikan kesenangan dan keberuntungan (Yesaya 58:13-14), namun sepertinya mayoritas Masehi tidak tertarik meerima tawaran ikrar Halikuljabbar tersebut.

Sementara itu juga, kerumahtanggaan Bible banyak ayat yang memerintahkan menuruti ketetapan-kelanggengan Allah, melakukan peraturan-kanun Yang mahakuasa dan mengkuduskan periode sabat (Yehezkiel 20:19-20), namun ternyata mayoritas Kristen banyak yang lain membenakan perintah tersebut, seakan-akan perintah dan pantangan Allah tersebut sekadar berupa cerita belaka.

Padahal Yesus koteng bak panutan mereka sudah lalu memperingatkan bahwa nan akan mem-peroleh kerajaan sorga hanyalah orang yang melakukan kehendak Allah :

Bukan setiap orang nan berseru kepada-Ku: Tuhan, Sang pencipta! akan turut ke kerumahtanggaan Imperium Sorga, melainkan dia yang berbuat niat Bapa-Ku yang di sorga. Matius 7:21

Belaka rupanya, cucu adam-hamba allah Serani lebih tungkul kepada keputusan gereja yang menyangkal perian Sabtu menjadi hari Ahad misal hari sabat tinimbang tunduk kepada keputusan Tuhan nan telah menetapkan hari Sabtu sebagai musim sabat, sekali lagi rupaya orang-insan Kristen makin suka mengikuti gereja ketimbang mengikuti Yesus panutannya. Sedangkan dalam Bible Sang pencipta telah melarang individu mengikuti keabadian hamba allah dan berpegang kepada ordinansi-peraturan anak adam (Yehezkiel 20:18).

BUKTI KETUNDUKAN KEPADA Basilika

Banyak tulisan-tulisan mulai sejak pihak Serani sendiri nan secara obyektif –kritis raung ketundukan umat Serani kepada dom pe-rihal penentuan musim sabat Sang pencipta:

1. The Catholic Press, Sydney, Australia, August, 1900

“Hari Minggu adalah institusi Katolik dan klaim untuk memeliharanya hanya dapat di pertahankan oleh mandu-kaidah katolik sekadar.

2.Priest Brody, in an address, reported in the Elizabeth, Horizon.J.”News,” 8 maret, 1903

“Lalu perlu lakukan mengingatkan suku bangsa Presbyterian, Baptist, Methodist dan semua golongan Masehi yang lain bahwa Bibel tidak membantu mereka dalam konservasi hari Minggu. Musim minggu ada-lah institusi dom Roma katolik, dan mereka nan memuliakan musim itu berarti menghormati perintah gereja katolik.”

3. Albert Smith, konselor berbunga Archdiocese Baltimore, menanggapi sertifikat untuk Cardinal, 10 February 1920

“Jika orang-orang Protestan mau mengimak Bibel, mereka harus menyembah Allah sreg perian Sabat. Dalam mengajuk perian Minggu maka mereka mengikuti perintah dom katolik”

4. Harold Lindsell, (mantan redaktur Majalah Christianity Today, tanggal 5 Nov. 1976)

“Enggak ada dalam Alkitab yang menyuruh kami membudidayakan tahun Minggu andai ganti dari pada hari Sabtu sebagai hari nan suci”.

5. Pernyatan Father Thomas Enright, CSSR, President, Redemptorist College (Cahaya muka Catholic) , Kansas City, Mo., 18 Februari 1884:

“Buktikan dari dalam Alkitab bahwa saya di haruskan menyucikan periode Minggu. Tidak ada syariat sama dengan itu dalam Bibel. Itu adalah hukum dari gereja Katolik yang suci hanya….Peliharalah perian Minggu privat tiap pekan, dan lihatlah…

Sebagai pengunci topik, kita nukil garitan seorang Kristen : Clovis G Chappell, dari Methodis, buku : Ten Rules For Living, hal 61.

“Alasan kami membudidayakan periode Minggu gantinya musim Sabtu didasarkan atas perintah nan tak jelas. Seseorang akan menyelidiki Alkitab dengan sia-sia cak bagi mendapatkan perintah pertukaran dari hari nan Sabtu kepada hari Minggu.”

Source: https://chodet22.wordpress.com/2010/05/19/hari-sabtu-atau-minggu/




banner

×