buatlah pentigraf tema kreatif​

Jawaban:

Ayah Prayitna

Oleh: Merry Srifatmadewi

Pulang berpangkal pasar tradisional dengan membawa jinjingan sayur-mayur dan daging, aku menuju apartemen, berpunca kejauhan kudengar obstulen alarm meraung-menguak. Betapa terkejutnya aku melihat  khalayak-orang pontang-panting keluar dari apartemen nan kuhuni.  Semua orang menengadahkan kepala, main tengok-tengokan ke arah gedung. Aku saja melihat sepintas. Tidak ada perian untuk nanang tahapan.  Tidak suka-suka pemukim duduk-duduk santai di lobi. Cepat kubuka pintu gelas menentang elevator dengan mencecah kartu akses. Aduh …, lift mati kuantitas. Bunyi pengumuman melalui pengeras kritik di koridor tidak terdengar jelas.

Panik sungguh teramat panik. Di lantai mana terjadi kebakaran? pikirku dalam hati. Apakah istriku tahu atau sedang lelap tertidur karena bangun menyusui prematur hari dan menggantikan ambet si kanak-kanak anyir? Dengan grusa-grusu aku naik janjang mendekati lantai 29, tidak sempat lagi istirahat bernapas walau napas kepingin kutung terengah-engah. Pikiranku hanya suatu menyelamatkan anak istriku yang plonco pulang kemarin setelah melahirkan. Kuusahakan bicara tenang plong istriku walau hati mengganas. “Ma, kita mau keluar, ada kebakaran. Aku akan bawa tas salinan-bilyet, engkau siapkan keperluan baby di tas.” Aku menggendong jabang bayi, menggandeng tangan amputan, mengapalkan tas sambil menuruni tataran satu-persatu dengan cemas, menggandeng erat tangan ayutayutan yang berjalan sangat lamban akibat proses sectio caesar.

Di luar keadaan semakin ramai, kemacetan tidak terhindarkan. Ada tampang histeris sinkron menyeberang urut-urutan dan berkumpul dengan penghuni lainnya serta sida-sida-sida-sida yang akan timbrung berkarya di mall, lain jauh dari apartemen. Wajah istriku semakin pucat pasi. Lejar sekali. “Suka-suka barang apa sebenarnya yang terjadi?” tanyaku sebagai penghuni baru yang penasaran ke seseorang yang berdiri sambil memandang gedung rumah. “Oh … tidak suka-suka segala-segala apa. Hanya cak semau latihan evakuasi terhadap kebakaran,” jawabnya sirep dan tidak lama kemudian menjepret-jepret foto mengambil momen yang jarang terjadi itu. Dengkul langsung lemas dan jantung terasa mau terlepas mendengar penuturannya.

Jakarta, 15 November 2022.




banner

×