Apa arti dari Thuma’ninah?#Gak boleh liat di Embk GOOGLE!​

Jawaban:

Secara bahasa, ‘thuma’ninah’ (الطمأنينة) adalah ‘ketenangan’. Ini harus dilakukan pada sejumlah propaganda salat, seperti saat saat ruku’, i’tidal, sujud dan duduk di antara dua sungkem karena termasuk intern rukun salat.

Penjelasan:

Secara bahasa, ‘thuma’ninah’ (الطمأنينة) adalah ‘ketenangan’. Ini harus dilakukan puas sejumlah gerakan salat, sebagaimana saat saat ruku’, i’tidal, sungkem dan duduk di antara dua sujud karena teragendakan internal akur salat.

Justru, tidak tumaninah ketika salat menurut Rasulullah SAW tersurat salah satu dari kesalahan besar nan terjadi pada sebagian khalayak yang salat.

Rasulullah SAW menganggapnya misal pencuri yang paling kecil buruk, sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Musnad Imam Ahmad, saat beliau berujar:

أَسْوَأُ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِي يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ وَكَيْفَ يَسْرِقُ مِنْ صَلاَتِهِ؟ قَالَ: لاَ يُتِمُّ رُكُوْعُهَا وَلاَ سُجُوْدُهَا.

Artinya: “Sejahat-kejam pencuri adalah yang mencuri dari salatnya”. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana mencuri berasal sholat?’.

Rasulullah mengomong: “Dia lain sempurnakan ruku dan sujudnya.” (HR Ahmad)

Maka, beliau menganggap bahwa perbuatan mencolong intern salat ini makin buruk dan bertambah parah ketimbang mencuri harta.

Tumaninah detik salat adalah bagian berasal berbaik salat, maka salat tidak jamak kalau tidak tumaninah. Rasulullah SAW jalinan berkata kepada basyar nan salatnya riuk:

إِذَا قُمْتَ إِلَى الصَّلَاةِ فَكَبِّرْ ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ مَعَكَ مِنْ الْقُرْآنِ ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِمًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِسًا ثُمَّ اسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِدًا ثُمَّ افْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلَاتِكَ كُلِّهَا

Artinya: “Seandainya Anda hendak mengamalkan salat maka bertakbirlah, lalu bacalah ayat Alquran yang mudah cak bagi Kamu. Kemudian rukuklah sampai benar-benar rukuk dengan tumakninah, lalu bangkitlah (dari rukuk) hingga kamu mencacak,

setelah itu sujudlah sampai bermartabat-benar sujud dengan tumakninah, lalu gotong (kepalamu) cak bagi duduk sampai tekun duduk dengan tumakninah, setelah itu sujudlah hingga moralistis-benar sujud, Kemudian buat sebagaimana itu pada seluruh salatmu.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dari hadits di atas, para jamhur mengambil kesimpulan dari hadits ini bahwa orang nan ruku’ dan sujud doang tulangnya belum lurus, maka salatnya bukan sah sehingga orang itu wajib mengulangnya




banner

×