Ajaran Yang Bertentangan Dengan Guru Susrusa Adalah

MUHAMMADIYAH.OR.ID, DEPOK— Dalam pendirian usul fikih disebutkan bahwa adat istiadat atau budaya dapat menjadi sumur hukum (al-‘resan muhakkamah). Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PCIM Arab Saudi Terang Fajri Romadhon mengatakan bahwa kaidah ini memposisikan budaya dan aturan istiadat perumpamaan mata air hukum yang diakui agama. Alhasil, kebiasaan dan tali peranti yang sesuai dengan syariat bisa menjadi sebuah hukum atas kasus tertentu.

“Namun perlu ditekankan di sini bahwa adat istiadat yang boleh dijadikan sumber hukum itu syarat utamanya ialah tidak bertentangan dengan al-Quran dan as-Sunah,” tegas alumni King Abdulaziz University, Arab Saudi ini dalam Amatan Tarjih yang diselenggarakan Didikan Daerah Muhammadiyah Depok pada Selasa (02/11).

Kamil pemakaian adat istiadat sebagai mata air hukum yakni penentuan mahar bikin istri. Dalam Selam, koteng lelaki yang ingin menikahi seorang perempuan wajib memberi mahar atau mas kekeluargaan. Mahar tersebut seandainya tidak ditentukan pron bila ijab kabul dikembalikan kepada aturan budaya setempat untuk menentukan ukurannya.

Konseptual lain dapat dikemukakan yakni masalah pemberian rezeki kepada anak bini. Menurut Islam, kepala rumah tangga wajib memberi kas dapur keluarga yang dipimpinnya, namun Islam enggak menentukan besarannya. Keadaan itu diserahkan kepada kemampuannya dan adat budaya yang berlaku di kewedanan panggung tinggalnya.

Budaya yang Bertentangan dengan Syariat

Contoh budaya nan bertentangan dengan syariat ialah syair-tembang yang dilantunkan orang-orang Jahiliyah lalu nan mengandung unsur-unsur kemusyrikan. Ketika Islam cak bertengger, melantukan puisi loyal dibenarkan, belaka pasti saja enggak bisa mengandung kejadian-kejadian yang bertentangan dengan agama, seperti kemusyrikan, bid’ah, dan hal-hal yang membantu kedzaliman.

“Budaya yang bentrok dengan Selam dapat diperbaiki kualitasnya sehingga enggak antagonistis dengan kredit-nilai ajaran Islam. Misalnya, syair yang adv amat mengandung molekul syirik diubah menjadi puisi yang mengandung angka-ponten tauhidi, dan kampanye Wali Songo dalam memodifikasi kesenian wayang,” ujar Nur Fajri.

Sementara itu, adat budaya hasil cipta karsa cucu adam yang secara kilap-terangan mengandung unsur-unsur kemusyrikan, bid’ah, khurafat, takhayul, kedzaliman, dan hal-kejadian subversif lainnya, maka harus ditundukkan kepada visiun Selam. Lain sebaliknya. Situasi tersebut lantaran budaya ialah hasil ciptaan manusia sedangkan nash-nash hukum enggak mungkin mengandung anasir kebatilan.

Contohnya adat budaya yang menyalahi hukum ialah budaya larung laut. Dalam budaya ini orang-khalayak mempersembahkan sesajian berupa kepala kerbau dan hasil pertanian lalu menghanyutkannya ke laut. Budaya ini pecah dari resan istiada Hindu, yang dilakukan oleh sebagian orang-manusia Jawa kerjakan mengharap berkah dari penunggu raksasa dan menghindarkan mereka dari niskala bahaya.

Dengan demikian, karakteristik kebudayaan intern Islam ialah sesuai dengan nilai-nilai Islam dan tidak bertentangan dengan Al Quran dan Al Sunah, bisa meningkatkan keyakinan dan tidak mengandung unsur kemusyrikan, menghasilkan amal dan menambahkan ingat kepada Allah, dan mewujudkan pencerahan kultur dan tidak menyebabkan perpecahan.

Source: https://muhammadiyah.or.id/bagaimana-menyikapi-budaya-yang-bertentangan-dengan-syariat/




banner

×