Ajaran Tauhid Apakah Yang Disampaikan Oleh Nabi Ilyasa

Aqidah

Definisinya : segala apa situasi yang terkait dengan keyakinan-keyakinan.

Tauhid


Definisi : – Secara bahasa : Menjadikan sesuatu itu satu.
– Secara istilah syari’at : Meng-Esakan Alloh Ta’aala dalam perkara-perkara yang tersendiri bagi Alloh Ta’ala; yaitu dalam perkara Rububiyyah, Uluhiyyah dan Asmaa dan Sifaat.

Dari penjelasan diatas maka Tauhid itu terbagi menjadi 3 :
1- Tauhid Rububiyyah.
2- Tauhid Uluhiyyah.
3- Tauhid Asmaa dan Sifaat.

1-
Tauhid Rububiyyah


Adalah : Meng-Esakan Alloh Ta’aala dalam 3 perkara, dalam hal Penciptaan, Pemilikan dan Pengaturan alam ini.

a- Alloh Ta’aala sebagai suatu-satunya Penyelenggara. Maksudnya ialah Alloh Ta’aala adalah sabagai satu-satu Pencipta yang hakiki/sepantasnya.

“Adakah Pencipta selain Allah.” Qs. Fathir : 3.


Pertanyaan :
Lalu bagaimana dengan Firman Alloh Ta’aala :

فَتَبَارَكَ الله أَحْسَنُ الْخَالِقيْنَ


“Maha Barakah Nama Alloh ; Sesegak-baik Penyelenggara.”

Juga hadits
Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam :
Bahwa kemudian hari di hari kiyamat dikatakan kepada para pembikin rang/patung makhluq bernyawa :

أَحْيُوا مَا خَلَقْتُمْ



“Hidupkan apa yang telah kalian ciptakan.” Hr. Al-Bukhari dalam shahihnya, dan Muslim privat shahihnya berpunca hadits Ibnu ‘Umar.

Bukankah kerumahtanggaan ayat dan hadits tadi ada penetapan bahwa makhluq/manusia itu memiliki rasam Mencipta? Apakah keliru/keseleo keyakinan kita bahwa Alloh Ta’aala itu ibarat satu-satunya Penyusun?

Jawabannya :
Perlu diketahui bahwa Hakikat Mencipta ialah : menjadikan yang asalnya tidak terserah menjadi cak semau. Dalam keadaan ini hanya Alloh Ta’aala Yang Maha Ki berjebah.

Sedangkan makhluq/manusia itu tidaklah mencipta dengan hakikat sebenarnya. Belaka manusia/manusia itu hanya merubah sesuatu dari satu bentuk kepada bentuk nan bukan. Bukan mengadakan sesuatu yang bukan ada itu lalu menjadi ada.

Sehingga benarlah keyakinan kita bahwa Alloh Ta’aala itu sebagai satu-satunya Pencipta nan sememangnya; yang tidak terserah seorang makhluqpun yang mampu menandingi Alloh Ta’aala internal perkara ini dan pada semua perkara.
“Tidak ada sesuatupun yang semisal dengan Dia.” Qs. Asy-Syuura : 11.

b- Alloh Ta’aala sebagai amung Pemilik.
Ialah merupakan Pemilik Khas kalimantang ini secara mutlak tersurat yang Memiliki kita, nyawa kita dan lebih jauh.
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan marcapada, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu.” Qs. Ali ‘Imran : 189.

Adapun kalau makhluk dikatakan memiliki rasam memiliki, maka sahaja terbatas pada barang apa-segala yang diperbolehkan oleh Alloh Ta’aala.

c- Alloh Ta’aala sebagai satu-satunya Pengatur alam ini. Termasuk juga suatu-satunya Pengatur syari’at.
“Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” Qs. Al-A’raaf : 54.

2-
Tauhid Uluhiyyah/ibadah

Yaitu : Meng-Esakan Alloh Ta’aala sebagai satu-satunya nan berhak bagi diibadahi.
Dan ini ialah tulang beragangan realisasi mulai sejak makna kalimat لا إله إلا الله . Makna kalimat ini adalah : “Lain sesembahan yang berwenang disembah/diibadahi kecuali Alloh.”
Makna ini diambil dari bilang arah :
a- Menurut bahasa :
لا
: Tidak terserah
إله
: maknanya yaitu “Yang Di Ilahkan/Disembah/Sesembahan”
Ditambah dengan “Hak” makara maknanya : sesembahan yang peruntungan. Sebagaimana nan disebutkan dalam Qs. Al-Hajj : 62.
إلا : kecuali
الله : Alloh.

b- Menurut Al-Qur’an :
“Yang demikian itu, yakni karena sesungguhnya Yang mahakuasa, Dia-lah sesembahn yang Haq dan sesungguhnya barang apa tetapi yang mereka seru selain berasal Allah, itulah yang batil, dan sesungguhnya Allah, Ia-lah Yang Maha Tinggi kembali Maha Osean.” Qs. Al-Hajj : 62.

c- Didalam hadits riwayat Al-Bukhari : bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berujar :



قُوْلُوْا : لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله تُفْلِحُوْا



“Katakan makanya kalian لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله niscaya kalian akan bahagia (dunia dan akhirat).”

Sosok-orang musyrik yang diajak oleh Utusan tuhan shallallahu ‘alaihi wasallam bikin mengucapkan kalimat لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله , mereka paham akan konsekuensi dengan perkataan ini; bahwa mereka harus menghindari sesembahan-sesembahan selain Alloh Ta’aala dan hanya menjadikan Alloh Ta’aala itu bagaikan suatu-satunya sesembahan nan berhak untu diibadahi. Mereka paham bahwa “Bukan suka-suka sesembahan yang berhak disembah selain Alloh.” Sehingga mereka serempak mengasihkan jawaban tentangan atas ajakan Utusan tuhan shallallahu ‘alaihi wasallam ini :

“Apakah dia (Muhammad) hendak menjadikan sesembahan-sesembahan itu sekadar satu namun? Sepatutnya ada Ini benar-etis suatu hal yang sangat mengajaibkan.” Qs. Shaad : 5.

Semenjak sini menunjukkan bahwa da’wah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah mengajak mereka untuk menandai-Tauhidkan Alloh dalam hal ibadah (kepada makna tauhid Uluhiyyah). Karena detik seorang sekadar men-Tauhidkan Alloh dalam hal Rububiyyah ( Alloh sebagai semata Pencipta, Tuan dan Pengatur ), maka hal ini telah diyakini oleh kabilah musyrikin. Alloh Berfirman tentang kejadian mereka :

* Pernyataan kaum musyrikin bahwa Alloh Ta’ala Pencipta segala sesuatu :

“Dan betapa sekiranya kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan maka dari itu yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. Qs. Az-Zukhruf : 9.

“Dan alangkah takdirnya kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah nan menciptakan mereka, niscaya mereka menjawab: “Allah”, Maka bagaimanakah mereka dapat dipalingkan (berusul menyembah Tuhan )?” Qs. Az-Zukhruf : 87.

* Pernyataan musyrikin bahwa Alloh Ta’aala sebagai satu-satunya Pemilik kalimantang ini :
“Katakanlah: “Milik siapakah mayapada ini, dan semua nan ada padanya, sekiranya sira mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah beliau lain ingat?” Katakanlah: “Siapakah yang Empunya langit yang tujuh dan yang Empunya ‘Arsy yang samudra?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah.” Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah nan di tangan-Nya berlimpah yuridiksi atas segala apa sesuatu medium dia melindungi, belaka tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Properti Allah.” Katakanlah: “(Kalau demikian), Maka berasal jalan manakah kamu ditipu?” Qs. Al-Mu’minun : 84-89.

* Pernyataan musyrikin bahwa Alloh suatu-satu Pengatur kalimantang ini :

“Katakanlah: “Siapakah nan memberi rezki kepadamu dari langit dan manjapada, alias siapakah nan Kuasa (menciptakan) rungu dan rukyat, dan siapakah yang mengeluarkan yang jiwa berpokok nan nyenyat dan mengeluarkan yang mati dari nan hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah”. Maka Katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” Qs. Yunus : 31.

Saja tatkala mereka masih memberikan ibadah kepada selain Alloh (tidak merealisasikan tauhid Uluhiyyah) maka mereka tidak dianggap bagaikan Muslimin dan masih dikatakan bak musyrikin.

d- Demikian juga penafsiran shahabat.

3-
Tauhid Asmaa dan Sifaat


Yaitu : Meng-Esakan Alloh Ta’aala dalam Cap-Nama dan Sifat-Sifat yang singularis cak bagi Alloh Ta’alaa.
“Hanya kepunyaan Yang mahakuasa Asmaa-ul Husna, Maka beribadat/beribadahlah kepada-Nya dengan menamai Asmaa-ul Husna itu dan tinggalkanlah bani adam-sosok nan melayang dari kebenaran kerumahtanggaan (menyebut) nama-jenama-Nya, nanti mereka akan berkat balasan terhadap apa nan sudah mereka buat.” Qs. Al-A’raaf : 180.

Didalam menetapkan Nama-Nama dan Adat-Sifat bagi Alloh Ta’aala suka-suka beberapa kaidah penting, diantaranya :

a- Kita menargetkan Segel-Segel dan Resan-Adat kerjakan Alloh sesuai dengan apa-segala apa yang Alloh Ta’aala Tetapkan bagi diri-Nya didalam Al-Qur’an dan sesuai dengan segala apa-segala apa nan ditetapkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam internal hadits-hadits yang shahih.
Kenapa demikian?

Karena Alloh Ta’aala adalah Dzat Nan Maha Ghaib yang belum pernah kita melihat-Nya. Sehingga tidak mungkin kita menetapkan Nama-Nama dan Sifat-Adat bagi Alloh Ta’aala melainkan dari sumber yang sempat tentang Alloh Ta’aala. Dalam hal ini maka Alloh Ta’aala Yang Minimum Tahu tentang diri-Nya , demikian pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam nan diberitahu maka dari itu Alloh Ta’aala. Karena kamu shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah bersuara dengan hawa nafsu melainkan dengan petunjuk.
“Dan tidaklah dia (Muhammad) berbicara menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada tak hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” Qs. An-Najm : 3-4.

Alloh Ta’aala Mengharamkan kita berkata akan halnya Alloh Ta’aala sonder ilmu (berita semenjak Alloh dan Rasul-Nya) :
“Katakanlah: “Rabb-ku Hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, dan ragam dosa, melanggar hak makhluk sonder alasan nan benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah enggak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Sang pencipta apa yang tidak kamu ketahui.” Qs. Al-A’raaf : 33.

“Dan janganlah kamu mengikuti segala apa yang kamu enggak punya pengetahuan tentangnya. Sememangnya rungu, rukyah dan lever, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” Qs. Al-Israa : 36.

Diantara tuturan yang salah (lain didasari ilmu/berita dari Al-Qur’an dan Hadits yang shahih) didalam memberikan Nama bagi Alloh Ta’aala merupakan bacot plong masyarakat (terutama Jawa) yakni mereka memerikan Nama kerjakan Alloh dengan pencadangan : “gusti Alloh.”
Bacot ini terasa ringan dimulut, namun sesungguhnya mendatangkan kemurkaan Alloh Ta’aala berlandaskan Ayat-Ayat di atas.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :

إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكّلَّمَ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سخت الله ، لاَ يُلْقِ لَهَا بَالاً يَهْوِي بِهَا فِي جَهَنَّم



“Sebenarnya seorang hamba dia (benar-moralistis) berkata dengan satu kalimat yang termaktub (yang mendatangkan) kemurkaan Alloh, semata-mata anda lain menyadari kedudukan kalimat tersebut; ternyata menghelah dia kedalam jahanam.” Hr. Al-Bukhari.

b- Kita menetapkannya sebagaimana adanya, dengan tanpa tahrif (menyimpangkan) dan sonder ta’thil (meniadakan) serta tanpa takyiif (membagaimanakan) dan tanpa tamtsiil (memisalkan).
Tahrif
: memalingkan makna/huruf tanpa adanya qorinah/indikasi/pendukung..
Ta’thil
: memurukkan/mengingkari.
Takyiif
: membagaimanakan.
Tamtsil
: membayangkan.
– Arketipe tahrif : tentang Sifat Alloh ialah Istiwa nan makna sememangnya adalah Tinggi dan Meninggi diatas semua makhluqnya. Adv amat oleh sebagian sosok di tahrif kepada makna “menuntaskan.”
– Lengkap ta’thil : sebagian orang karena gugup menyamakan aturan Alloh Ta’aala itu seimbang dengan makhluq-Nya maka mereka menyangkal Resan untuk Alloh. Sehingga ditolak Sifat-Sifat Alloh tersebut.
– Contoh takyiif : dengan bertanya bagaimanakah resan Alloh? Atau dengan mandu membagaimanakan/memperagakan sifat Alloh disamakan dengan makhluq (seperti Sifat Alloh “Turun”), mereka mengimbangkan dengan turunnya makhluq dari kursi.
– Kamil tamtsil : yaitu dengan menyerupakan “Tangan Alloh” sama dengan tangan makhluq.

c- Kita mematok-Nya dengan tanpa memisalkan dan mensucikan-Nya dengan tanpa menolak.


إِثْبَاتٌ بِلاَ تَمْثِيْلٍ وَتَنْزِيْهٌ بِلاَ تَعْطِيْلٍ



“Bukan ada sesuatupun nan serupa dengan Dia, dan Dia-lah nan Maha mendengar dan Melihat.” Qs. Asy-Syuura : 11.

d- Nama-Nama Alloh Ta’aala tidak adv minim dengan bilangan tertentu.
Berlandaskan hadits Utusan tuhan shallallahu ‘alaihi wasallam :


أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ ، سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِيِْ كِتَابِكَ ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ ، أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ.


“Aku meminta kepada Ia ( Ya Alloh) dengan segala Nama Yang Dia Miliki, yang Engkau Namakan Dir-Mu dengan-Nya, atua nan sudah lalu Engkau Turunkan dalam Kitab Kalis Beliau, atau yang telah Beliau Ajarkan kepada salah seorang berpangkal makhluq-Mu, atau yang Engkau Sembunyikan pada Ilmu Ghaib disisi Anda.” Hr. Ahmad, Bani Hiban dan Al-Penengah.
Nama-Jenama yang Alloh Sembunyikan plong ilmu ghaib, lain mungkin seorangpun yang bisa menghitung-Nya.

Akan halnya sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam n domestik hadits berikut ini :


إِنَ لِلَّهِ تِسْعَة وَتِسْعِيْنَ اسْمًا مِائَة إِلاَّ وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ



“Sesungguhnya Alloh Memiliki 99 Tanda; dimana barangsiapa yang menghitung-Nya maka masuk sorga.” Hr. Al-Bukhari.

Ini tak menunjukan semata-mata adv minim dengan bilangan ini (99). Namun ini adalah keutamaan tentang barangsiapa yang cak menjumlah 99 Label Alloh (privat hadits ini) maka timbrung sorga. Yakni Alloh Mempersiapkan sorga bagi yang cak menjumlah sejumlah itu.

Sebagai transendental (untuk memudahkan memahaminya) : seseorang menyatakan : “Aku memiliki 100 dirham yang aku persiapkan untuk shadaqoh.” Ucapan ini tidak menunjukkan bahwa orang tersebut doang memiliki uang 100 dirham. Dapat jadi lebih berusul itu. Adapun yang dipersiapkan bikin shadaqoh doang 100 dirham.

Source: https://ibnusarijan.blogspot.com/2012/04/tauhid-definisi-serta-macamnya.html




banner

×